Mendikbud Akan Tarik Buku SD yang Sebut NU Ormas Radikal

372
Mendikbud Muhadjir Effendy (Foto: Suara Pemred)

Jakarta, Muslim Obsession – Buku pelajaran untuk kelas V Sekolah Dasar (SD) di Jombang menuai protes dari orang tua siswa. Buku berjudul ‘Peristiwa Dalam Kehidupan’ ini menyebut Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ‘organisasi radikal’ yang sama dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Buku dengan sampul gambar anak-anak ini diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2017. Buku setebal 226 halaman ini berjudul Peristiwa dalam Kehidupan. Di bawah judul tertulis Tema 7 Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013.

Untuk itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan akan menarik buku ajar sekolah dasar yang menyebut Nahdlatul Ulama sebagai organisasi radikal. Penarikan buku itu menyusul protes dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Muhadjir mengatakan setelah menarik buku dari peredaran, pihaknya juga akan merevisi buku ajar tersebut agar memuat sistematika dan informasi yang benar.

Dia menjelaskan buku tersebut ditulis pada 2013. Setelah ada berbagai masukan, akhirnya buku tersebut ditulis kembali tiga tahun kemudian. Setelah itu, kata Muhadjir, pihaknya menyimpulkan ada persoalan tersebut.

“Buku ini akan ditarik, dihentikan, ditarik kemudian kita revisi. Kemudian dalam proses revisi itu akan dimitigasi, supaya secara sistematika benar, secara substansi juga benar,” katanya, Rabu (6/2/2019).

Protes terkait penyebutan NU sebagai organisasi radikal dalam buku ajar SD/Madrasah Ibtidaiyah disampaikan Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini. Pihaknya keberatan dengan diksi radikal dalam buku pelajaran tematik kelas V SD itu.

Dalam buku tersebut NU digolongkan sebagai organisasi radikal di masa penjajahan. Posisi NU juga bersandingan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai organisasi penentang penjajah.

Hilmi mengatakan istilah radikal untuk NU tidak tepat. Menurutnya, ada diksi selain radikal yang lebih patut digunakan yaitu patriotisme.

“Jika ingin menggambarkan perjuangan kala itu, yang lebih tepat frasa yang digunakan adalah masa patriotisme, yakni masa-masa menentang dan melawan penjajah,” kata Hilmi. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here