Mendidik Anak Sesuai Fitrah

81

Oleh: Retno Wahyuningsih (Dosen IAIN Surakarta dan sebagai salah satu Kontributor Majalah TAQIYYA)

Orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anak, sebab dalam rumah tanggalah setiap anak belajar banyak hal-hal penting mengenai kehidupannya kelak. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Banyak hal dimulai dari rumah, anak tumbuh dan berkembang, mengenal dirinya, ayah dan ibunya, saudara-saudaranya, belajar memahami segala sesuatu yang terjadi di sekitar lingkungannya termasuk mengenal berbagai perbedaan bahkan konflik yang terjadi.

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, dengan segenap kesempurnaan dan karakteristik yang dia miliki, baik dia laki-laki maupun perempuan, sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS Ar Ruum:30)

Fitrah Allah, maksudnya manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Dalam konteks yang lebih luas, naluri beragama berarti kesadaran untuk senantiasa berada di jalan yang lurus sesuai dengan aturan hidup yang Allah berikan, termasuk aturan yang berkaitan dengan kewajiban sebagai manusia yang tercipta dalam dua gender, yaitu laki-laki dan perempuan. Ya.

Ternyata Allah hanya menciptakan manusia di dunia ini hanya dalam dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Tidak ada jenis kelamin di antara keduanya, mereka diciptakan berpasang-pasangan untuk fungsi alih generasi sehingga manusia mampu eksis di muka bumi sebagai khalifah Allah. Maka mendidik anak sesuai fitrahnya merupakan sebuah kewajiban bagi para orang tua.

Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang kelak akan diperankannya.

Mengingat perbedaan tersebut, maka Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya.

Pola asuh orang tua dan stimulasi yang diberikan, memiliki peran yang besar dalam memperkuat identitas anak sebagai laki-laki atau perempuan. “Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita, dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. Dalam riwayat yang lain: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki-laki“. (HR. Bukhari).

Berkaitan dengan hal ini, sebelum melaksanakan tugas mendidik anak, orang tua perlu mengenali karakteristik mendasar anak laki-laki dan perempuan, bahwa otak anak  laki-laki dan perempuan memiliki sistem dan fungsi yang berbeda. Perbedaan dasar tersebut membuat penerimaan individu, laki-laki maupun perempuan, berbeda pula.

Hal ini menjadi penting dalam urusan mengasuh dan mendidik anak. Perbedaan tersebut melingkupi kapasitas otak dalam menerima perintah dan informasi. Otak laki-laki hanya punya kapasitas untuk 2.000 kata dan perempuan sekitar 70.000 kata sehari. Hal ini berdampak pada perbedaan memperlakukan anak laki-laki dan perempuan:

Saat berbicara dengan anak laki-laki, hendaknya orang tua tidak banyak memerintah atau menyampaikan informasi yang panjang dan saling tumpang tindih. Jika orang tua berbicara terlalu panjang kepada anak laki-laki, mereka tidak akan lekas mengerti. Baiknya bicara lima belas kata lalu berhenti dan dilakukan secara perlahan.

Setiap anak harus sejak dini diajarkan cara bertanggung jawab, sehingga tahu hak dan kewajibannya, bagaimana mengendalikan cara berpikir, bagaimana menunjukkan diri sebagai laki-laki dan perempuan, bagaimana bersikap, dan bagaimana mereka menutup auratnya. Pendidikan tersebut adalah bentuk dari pendidikan seksualitas, yang harus diajarkan sejak dini. Seksualitas harus diajarkan sejak umur 2,5 tahun, baik untuk anak laki-laki maupun perempuan.

Sementara itu, pendidikan seks dan reproduksi harus disiapkan sebelum anak mulai masuk usia pubertas. Anak-anak bisa mulai diajarkan pendidikan seks dan reproduksi sejak umur 8-9 tahun. Hal ini lebih cepat diberikan karena anak-anak sekarang tumbuh lebih cepat. Sekarang, 52% anak perempuan sudah menstruasi di umur 9 tahun, kemudian anak laki-laki mulai mimpi basah di umur 11 tahun.

Orang tua bisa mulai menjelaskan kepada anak pada usia menjelang pubertas tersebut tentang perubahan fisik yang akan mereka alami, serta hal-hal dan cara menangani apa yang akan dihadapi. Hal-hal seperti menstruasi, mimpi basah, pembalut, dan sebagainya, harus bisa diajarkan orang tua dengan cara yang ramah. Pada akhirnya, orang tua harus mampu menjadi pendidik yang baik, termasuk dalam membedakan cara mendidik anak laki-laki dan perempuan.

Menjauhkan anak dari berbagai rangsangan. Pada diri manusia terdapat potensi (dorongan) hidup yang senantiasa mendorong untuk melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Orang ingin makan karena lapar, ingin minum karena haus, ada atau tidak ada makanan. Sementara naluri baru akan muncul kalau ada rangsangan-rangsangan dari luar. Dorongan seksual muncul misalnya setelah melihat atau membayangkan lawan jenis, membaca buku, nonton film dan sebagainya, maka Islam telah memberi seperangkat pemahaman yang dapat mengatur kecenderungan seksual manusia secara positip, yaitu dengan seperangkat aturan dalam urusan pernikahan. Islam juga berusaha mencegah dan menjauhkan manusia dari segala hal yang bisa membangkitkan perasaan seksualnya.

Membatasi pergaulan sejenis. Disamping telah memberikan aturan bagaimana bergaul dengan lawan jenis, Islam juga memberikan atauran hubungan sejenis. Terkait masalah ini, Rasulullah SAW bersabda: ”Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut” (HR. Muslim). Laki-laki yang melihat aurat laki-laki ataupun perempuan yang melihat aurat sesama perempuan akan terangsang. Hal ini dapat menjadi pemicu penyimpangan seksual. Apalagi kalau tidur dalam satu selimut.

Pertumbuhan dan perkembangan masa anak-anak merupakan masa yang sangat penting. Baik pertumbuhan organ fisiknya, psikologis dan sosialisasi atau interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pada masa ini hendaklah para orang tua memberikan bimbingan dan pengarahan termasuk di dalamnya masalah seksual.

Hendaknya para orang tua memberikan bimbingan dengan bijaksana. Dalam hal ini Islam telah memberikan pedoman-pedomannya. Islam sebagai sistem ajaran yang lengkap telah memberikan tuntunan kepada para pemeluknya. Pelanggaran dan ketidaktaatan terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah dan RasulNya akan menyebabkan kehancuran peradaban manusia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here