Mencari Figur

275

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Bila kita ingin mencari figur yang kita sukai jangan cari figur yang ahli maksiat, sebab cahayanya akan terasa dalam jiwa kita. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan:

 فإن الشخص تشع الطاعة الخفيفة

“Pada diri seseorang akan memancar cahaya ketaatan”.

 إذا كان اهل المعصية فسوف معصيته  يصل إلينا

“Jika dia ahli maksiat/sering berbuat dosa maka kemaksiatannya akan sampai kepada kita”.

واذا كان اهل الطاعة فسوف طاعته يصل الينا

“Dan sekiranya dia ahli taat maka ketaatanpun akan sampai kepada kita”.

Maksudnya setiap orang dapat mempengaruhi keadaan orang lain jika orang ini adalah orang yang taat kepada Allah maka tingkah laku keadaan orang ini akan mempengaruhi kebaikan bagi yang bergaul dengan mereka. Tapi jika keadaan orang ini maksiat, suka mabuk, berjudi, senang berzina maka keadaan orang ini pun bisa menarik orang lain.

Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ:

من تثبها بقوم فهو منهم

“Siapa saja yang mengikuti satu kaum dia akan mnjadi bagian dr kaum tersebut”.

Para artis, bintang film, bintang sinetron, sangat disukai remaja bahkan dijadikan idola. Bila dari kalangan mereka kita jadikan idola, maka carilah orang yang takut kepada Allah, sebab aura mereka akan dapat mempengaruhi jiwa kita.

Contoh lagu-lagu mereka kita nyanyikan akan berpengaruh dan membekas pada perkembangan jiwa kita. Ingatlah hadits Nabi ﷺ di atas. Kata tsabaha (تثبها) yang artinya serupa, seperti orang pakai topeng.

Nah… topengnya kita pakai di muka kita, maka gerak-gerik dan tingkah pola orang ini akan sedikit banyaknya membekas pada jiwa kita.

Saya punya cerita dari “dunia hitam”. Mungkin ini kisah diceritakan untuk menjadi Ibroh atau pelajaran buat kita. Saya minta izin untuk diposting dengan disamarkan namanya.

Dia  bernama Fathan umurnya sekitar 50 tahun. Saya lihat dia rajin ke masjid dan sangat hormat kepada para guru agama termasuk saya. Satu saat beliau berbicara:

“Ustadz, mantan penjahat lebih baik dari mantan kiayi”.

Saya bertanya, “Kenapa?”

Beliau menjawab, “Saya ini bekas penjahat. saya sering membunuh orang, judi, mabuk-mabukan. Saya lakukan tapi saya taubat dan selalu ingin di masjid. Berarti saya “mantan penjahat”. Tapi teman saya yang ustadz tadinya rajin shalat, tapi sekarang dia malah keluyuran gak karuan. Berarti dia mantan kiai”.

“Kenapa kau berubah?”

“Aku berubah karena lihat orang seperti Ustazd dan assatidz lain, yang hidupnya tenang. Aku mau tenang dengan hiruk pikuk kemasiatan”.

Termenung saya ternyata seseorang itu ada titik jenuhnya. Puncak jenuh dari kehidupan yang penuh dengan kubangan dosa dan saya pun teringat dengan kata-kata ulama yang mulia di atas, As-Sayyid Abdullah Bin Alwi Al-Haddad rahimahullah ta’ala.

Semoga jadi ibroh atau pembelajaran buat kita…Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here