Menag: Perbedaan Adalah Fitrah

39
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: kemenag)

Jakarta, Muslim Obsession – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengucapkan selamat memperingati Hari Toleransi Internasional atau International Day of Tolerance yang diperingati setiap tanggal 16 November.

Peringatan ini didasarkan pada hasil kesepakatan dari Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1995.

Menag mengatakan, inti peringatan ini adalah merayakan keberagaman dan toleransi dalam wujud nyata, serta untuk memastikan bahwa semua orang memahami pentingnya memberi ruang satu sama lain.

BACA JUGA: Menag: Jabatan Menag Harus Orang Islam

“Setiap kita perlu terus menumbuhkan kesadaran bahwa keragaman agama, bahasa, budaya, dan etnis bukanlah dalih untuk konflik, tetapi kekayaan umat manusia. Keragaman adalah kekayaan,” ujar Menag di Jakarta melalui keterangan tertulis, Selasa (16/11/2021).

Menag menjelaskan, keragamaan adalah potensi umat manusia untuk saling mengenal dan berkolaborasi dalam kebaikan dan mewujudkan kemaslahatan bersama. Sebab, mereka yang bukan seiman adalah saudara dalam kemanusiaan.

Menurutnya, Kementerian Agama (Kemenag) saat ini tengah berupaya melakukan penguatan moderasi beragama. Ada empat indikator dalam penguatan moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan ramah terhadap tradisi.

BACA JUGA: 4 Pakar Al-Quran Ini Dapat Anugerah Lifetime Achievement dari Kemenag

Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengimplementasikan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

“Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengamalan kita dalam beragama,” tegasnya.

Menag berharap aparatur sipil negara (ASN), utamanya di Kementerian Agama (Kemenag), bisa menjadi pelopor dalam penguatan moderasi beragama.

Dia juga mengajak para tokoh agama, akademisi, tokoh pemuda, dosen, guru, dan penyuluh agama, serta kalangan milenial untuk bersinergi dalam diseminasi dan gerakan meningkatkan toleransi antarumat melalui semua saluran.

“Perbedaan adalah fitrah,” tandasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here