Menag Minta Puslitbang Bentuk Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara

572
Lukman - FGD
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan arahan dalam Focus Group Discussion (FGD), Selasa (9/1/2018). (Foto: Kemenag)

Jakarta, Muslim Obsession – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat untuk membuat Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara.

Hal itu diungkapkan Menag dalam Forum Group Discussion (FGD) tentang Perpustakaan Khazanah Agama dan Keagamaan di OR Gedung Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Menag mengatakan, sebagai negara besar Indonesia sudah semestinya memiliki Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara. Menurutnya, hingga saat ini manuskrip keagamaan masih sangat banyak tersebar di masyarakat, bahkan puluhan ribu manuskrip berada dalam kondisi yang memperihatinkan.

“Kegiatan ini harus dimulai secara bertahap, misalnya digitalisasi naskah, membuat film-film dokumenter sebagai bentuk konservasi warisan ini. Untuk mewujudkan hal ini, perlu penyesuaian dan modifikasi sejumlah program yang mendukung,” ujar Menag, seperti dilansir situs resmi Kementerian Agama.

Keinginan Menag tersebut, menurut Kepala Badan Litbang Diklat Abd Rahman Mas’ud, sejalan dengan program prioritas dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balitbang dan Diklat Kemenag.

Ada lima alasan yang dikemukakan Abd Rahman Mas’ud terkait wacana pendirian pusat kajian manuskrip keagamaan nusantara tersebut. Pertama, maraknya tahrif sejak tahun 1970-an; Kedua,  Indonesia adalah negara yang sangat kaya manuskrip keagamaan, tetapi juga rawan bencana alam (tsunami, banjir, gunung meletus, dan lainnya). Bencana alam juga biasa berdampak pada hilang atau rusaknya naskah.

Ketiga, konservasi manuskrip keagamaan telah lama dikerjakan tetapi belum maksimal untuk kebutuhan riset dan produksi ilmu pengetahuan; Keempat, banyaknya naskah yang telah didigitalisasi, tetapi belakangan hancur, hilang, dan bahkan dijual ke luar negeri.

“Dan yang terakhir, saat ini sedang terjadi pergeseran paradigma kajian Islam dari Timur Tengah ke Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Islam Indonesia yang khas dan majemuk, sejatinya menjadi referensi dunia terutama dalam hal artikulasi Islam dengan budaya, politik, ekonomi dan local wisdom,” urainya.

Untuk program unggulan Lektur Keagamaan tahun 2018, dijelaskan Abd Rahman, antara lain mencakup Digitalisasi Manuskrip Keagamaan (2.500 naskah), Film Dokumenter (proses penjajakan, penelitian, dan digitalisasi manuskrip), Benchmarking Konservasi Naskah (Turki, Mesir, Iran, Maroko, Qatar, Mauritania, India, Belanda (Leiden), Inggris (British Library), Jerman (Berlin dan Lepzigh, Malaysia (PNM dan ISTAC)).

“Termasuk melakukan Penelitian dan pengembangan terkait lektur klasik keagamaan dan lektur kontemporer dan penelitian dan pengembangan terkait heritage Nusantara,” kata Abd Rahman Mas’ud.

Dalam FGD itu juga disebutkan benchmarking Pusat Naskah Dalam dan Luar Negeri, misalnya Ma’had al-Makhthuthat dan perpustakaan megah di Universitas Iskandariyah yang ada di Mesir. Lalu dua perpustakaan Manuskrip di Iran, yakni Maktab-e al-Noor, Teheran yang memiliki koleksi jutaan naskah dan 700-an produksi CD dalam berbagai keilmuan Islam dan Maktabah Allamah al-Mar’asy, Teheran yang memiliki sekitar 40 ribuan manuskrip.

“Sementara Turki memiliki IRCICA sebagai pusat manuskrip Republik Turki. Malaysia dan Brunei Darussalam juga sudah mengoleksi lebih dari 1.500-an manuskrip dan konon sebagian besar berasal dari Indonesia,” jelasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here