Memiliki Kekayaan Sejati

526

Oleh: Dr. KH. Husnan Bey Fananie, MA (Dubes Indonesia untuk Azerbaijan)

Al-ghina fis shudur. Begitulah Islam mengajarkan makna kekayaan yang sejati. Kekayaan bukanlah banyak harta benda, melainkan kekayaan hati di mana seseorang merasa bahagia karena mampu menyerap rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Keluasan hati saat seseorang mampu menekan hawa nafsunya, bersikap menerima dan mensyukuri apa yang ada, inilah merupakan kekayaan yang sebenarnya.

Seseorang yang memiliki kekayaan hati akan selalu bahagia. Apapun kondisinya, ia selalu optimis. Ia akan berpikiran positif terhadap kondisi yang ia alami dan percaya bahwa itu merupakan ketentuan yang diberikan Allah Swt. kepadanya. Setelah berdoa dan berusaha, selebihnya akan ia kembalikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Inilah sikap orang-orang yang memiliki kekayaan hati. Jika disederhanakan, kekayaan hati muncul dari dua sikap: sabar dan syukur. Seseorang yang memiliki kekayaan hati akan bersabar dalam setiap musibah dan bersyukur dalam setiap karunia yang ia terima. Dua sikap ini sangat penting bagi kondisi jiwa seseorang, sehingga hal ini menjadi tolak ukur keimanan kepada Allah Swt.

Salah satu perilaku positif dalam memunculkan kekayaan hati adalah memberi. Karena memberi merupakan pangkal kebahagiaan. Sebaliknya, meminta atau menuntut merupakan sumber keresahan. Ketika kita memberi akan muncul perasaan lega dan gembira. Sebaliknya, kalau kita menuntut, apalagi jika tuntutannya tidak dipenuhi, kita akan merasa jengkel dan kecewa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here