Membangkitkan Kecintaan Masyarakat Membeli Produk Lokal UMKM

99

Oleh: Dr. Dewi Tenty Septi Artiany, SH, MH, M.Kn, Doktor Ilmu Hukum, Alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Notaris, Pegiat Koperasi dan UMKM

Indonesia resmi masuk jurang resesi ekonomi, ditandai salah satunya dengan melonjaknya angka pengangguran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran bertambah 2,67 juta orang.

Alhasil jumlah pengangguran di Indonesia tahun ini bertambah dari sebelumnya 7,10 juta (Agustus 2019) menjadi total 9,77 juta orang (Agustus 2020).

Jumlah pengangguran tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2008. Pada Agustus 2008 jumlah pengangguran mencapai 9,39 juta orang dan angka pengangguran pada Agustus tahun ini juga lebih tinggi jika dibandingkan saat resesi ekonomi tahun 1998.

Gelombang pengangguran ini tentunya sangat memprihatinkan, karena akan berdampak kepada semua lini masyarakat, berkurangnya daya beli, dan akan menurunkan jumlah produktivitas. Circle ini harus disiasati dengan cerdik agar tidak mengakibatkan multiplier effect yang lebih buruk lagi, yaitu mengakibatkan meningkatnya kejahatan.

Para pelaku UMKM menjadi kelompok masyarakat yang rentan kena imbas dari resesi ekonomi. Dengan berkurangnya daya beli tentu akan mengakibatkan turunnya produksi, ditambah dengan bahan baku yang semakin sulit karena masih banyak produk yang bergantung pada bahan baku impor.

Di tengah kekhawatiran ini ada celah bagi para pelaku UMKM supaya tetap berproduksi, yaitu dengan jeli memanfaatkan peluang. Ketiadaan stok bahan baku impor sebaiknya segera disiasati dengan cerdik, misalnya mengganti bahan baku impor sebisa mungkin menggunakan bahan baku lokal. Seperti kain yang biasa dipakai sebagai bahan baku fashion memang dulu lebih murah apabila membeli dari produk luar dibanding lokal. Sekarang bagaimana caranya sebisa mungkin pelaku UMKM membeli produk kain lokal sebagai suatu upaya menggerakkan roda produksi perajin kain.

Packaging plastik yang biasa dibeli dari negara lain diganti dengan kertas daur ulang yang dibuat sendiri, atau daun pisang sebagai pembungkus makanan

Hal ini selain menurunkan biaya produksi juga akan lebih ramah lingkungan.

Ketidakadaan cash juga dapat disiasati dengan pola barter antar pelaku UMKM. Pola seperti ini sekarang sudah mulai dilakukan agar menjaga mata rantai konsumsi dan produksi tetap berjalan.

Dan untuk korban PHK yang baru saja menganggur bisa ditawarkan menjadi reseller atau drop shipper dari produk produk UMKM. Setidaknya kegiatan tersebut memiliki dua manfaat, yaitu menjadi sumber income bagi pelaku reseller dan dropshipper juga sebagai tambahan income serta produksi bagi produsen UMKM.

Dan yang terakhir yang paling penting bagi semuanya adalah membangkitkan semangat dan kecintaan masyarakat membeli produk lokal UMKM supaya mereka tetap produktif. Dan juga menjaga mata rantai perekonomian agar tetap berputar di masa krisis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here