Membaca Gelombang Takdir!

473

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation, New York)

Memasuki tahun pemilu, baik pilkada di tahun 2018 maupun pilpres di tahun 2019, perlu diingatkan kembali tentang “realita” (HAQ) di atas segala realita. Realita “keputusan” (Qadha) di atas realita keputusan apapun.

Itulah realita dan keputusan Allah SWT. Hiruk pikuk pemilihan pejabat publik kerap kali menjadikan banyak kalangan buta dengan penghulu realita (master of all realities) itu.

Hidup manusia itu mengikuti irama gelombang Qadar Ilahi. Gelombang ombak yang dahsyat, bergerak sesuai pergerakan kehendak Pencipta kehidupan dan kematian (khalaqal mauta wal hayaata). Dan kehendak Dia itulah akan dan pasti terjadi. Tiada keraguan (laa raeb) padanya sedikitpun.

Anda hidup karena Dia yang “Al-Muhyii”.
Anda makan karena Dia yang “Ar-Razzaq”.
Anda kaya karena dia yang “Al-Ghany dan Al-Mughny”
Anda kuat karena dia “Al-Qawii”.
Anda mampu karena Dia yang “Al-Qadiir”.
Bahkan anda berkuasa karena Dia yang “Maalikal mulk”.
Dan ingat, suatu ketika anda pun mati juga karena Dia yang “Al-Mumiit”.

Permasalahan sesungguhnya bukan pada pergerakan gelombang hidup. Bukan pada pergantian warna warni kehidupan. Karena itu pasti, harus dan alami. Naik turunnya pergerakan hidup, hitam putihnya warna hidup, pahit manisnya rasa hidup itu bukan masalah. Karena sekali lagi itu mutlak, bahkan bagian dari proses alami yang terjadi dalam hidup.

Masalahnya justru ada pada suasana “tatanan jiwa” manusianya. Semakin mapan jiwa manusia semakin kokoh, bahkan menikmati setiap detak pergerakan itu. Bahkan sungguh luar biasa ajibnya sikap manusia yang mapan kejiwaannya. “Ajaban liamril mukmin. In ashobathu sarraa syakar. Wa in ashoobathu dhorraa shobar. Wa fii dzalika kulihi khaer”.

Sebaliknya kerapuhan dan kekerdilan jiwa manusianyalah yang menjadikan pergerakan itu menimbulkan dua kemungkinan penyakit sosial (social sickness):

1) Jika pergerakan itu menanjak, memihak dan menyenangkan maka dia akan membusungkan dada. Bahkan seringkali berusaha membusungkan dada, tidak mau dikalahkan, walau takdir memaksanya untuk terkalahkan dan dikalahkan.

2) Tapi jika pergerakan itu melongsor turun, menungging, tidak memihat kepada ambisinya, yang terjadi adalah “sakit hati” dan dendam kusumat. Kerap kali dendam kusumat itu menampakkan diri pada momen-momen tertentu.

Jiwa kerdil seperti ini terjadi pertama karena memang kegagalan memahami konsep tauhid itu sendiri. Konsep tauhid itu mengajarkan bahwa semua pergerakan hidup, semua warna dan bentuk hidup itu adalah proses, dan terkendali secara tunggal di antara jari jemari Ilahi. Konsep “biyadihi al-mulk” dan “ilaihi yurja’u al-amru kulluh” belum terhayati secara baik dan benar.

Sejatinya memang keberhasilan atau kagagalan itu ditentukan secara mutlak oleh yang mengendalikan semua pergerakan di alam semesta ini. “Allahumma laa mani’a limaa a’thoeta wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa raadda limaa qadhaet”.

Kegagalan dalam memahami tauhid ini berakibat pula kepada kegagalan dalam menerima kenyataan qadar dan qadha Ilahi. Dan hati yang gagal menerima kenyataan aadar dan qadha inilah yang rentang terjangkiti penyakit jiwa. Iri hati, dengki dan hasad menjadi bayang-bayang hidupnya.

Penyakit yang bagaikan bara api yang panas ini ketika bertengger dalam jiwa seseorang, menjadikannya merana, menggelepar kepanasan bagaikan cacing terhempas ke daratan panas. Tidak akan pernah merasakan ketemangan dan tidak akan pernah menenangkan. Menanggung derita dan kebinaan sendiri (self destruction) bahkan melakukan berbagai tindakan destruktif, baik dalamp kata maupun aksinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here