Matinya Hati Karena Hilangnya Ilmu dan Hikmah dari Dada Seseorang

221
Ilustrasi.

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Ketika membaca kitab Ihya Ulumiddin karya Al-Imam Abu Hamid Bin Muhammad Al-Ghozali saya dapati suatu perkataan beliau menyangkut hati manusia.

Beliau berkata:

 قال فتح الموصلي رحمه الله : أليس المريض إذا منع الطعام والشراب والدواء يموت؟ قالوا بلى. قال كذلك القلب إذا منع عنه الحكمة والعلم ثلاثة أيام يموت

“(Di hadapan para muridnya) Fathu Al-Mushili rahimahullah berkata: ‘Bukankah akan mati jika ada orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat?’ Mereka pun menjawab, ‘Iya benar, akan mati’. ‘Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati akan mati,” kata beliau.

Baca juga: Bahaya Hasad, Iri Hati, atau ‘Sirikan’

Imam Al-Ghazali membenarkan apa yang dikatakan Fath Al-Mushili. Karena makanan hati adalah ilmu dan hikmah. Dengan ilmu dan hikmah hati itu bisa hidup. Sebagaimana badan akan hidup jika makan.

Maka jika seseorang tidak mendapatkan ilmu akan menyebabkan hatinya menjadi sakit dan itu bisa menyebabkan hatinya mati, tapi hal itu terbanyak tidak dirasakan oleh seseorang.

Cinta dunia dan kesibukan duniawi bisa membuat orang tidak merasakan bahwa hatinya sedang sakit. Sebagaimana kondisi seseorang yang dalam ketakutan atau pun dalam keadaan mabuk akan bisa melupakan dan “menghilangkan” rasa sakit di sekujur tubuhnya padahal luka di badannya sangat serius, sementara ia tidak merasakan.

Baca juga: Untuk Direnungkan: Jangan Sombong dengan Ilmu

Kemudian, ketika kematian telah datang dan melenyapkan semua urusan dunia, maka barulah dia merasakan dan menyadari bahwa dirinya dalam keadaan rusak berat dan saat itu barulah sangat menyesal.

Penyesalan pascakematian ini tentu tidak ada gunanya lagi. Sama seperti orang yang sudah aman dari ketakutannya tadi atau orang yang sudah sadar dari mabuknya, ia baru merasakan luka-luka yang ia alami saat mabuk atau saat ketakutan.

Maka kita berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dari keburukan di Hari Hisab tersebut. Karena sesungguhnya saat ini manusia masih dalam keadaan tertidur dan ketika dia meninggal dunia, disaat itu barulah dia terbangun dari tidurnya.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Referensi: Imam Muhammad al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr, juz I, halaman 8

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here