Masyumi dan Hari Pahlawan

83

Oleh: Abdullah Hehamahua

Hari ini, 75 tahun lalu, terjadi peristiwa heroik di Surabaya. Pertempuran sengit di antara pasukan Sekutu dengan rakyat Surabaya, 10 November 1945. Peristiwa ini terjadi ekoran pengibaran bendera Belanda di hotel Yamato, Surabaya yang berlanjut dengan tertembaknya Jenderal Mallaby, pimpinan pasukan Sekutu di Surabaya.

Bendera Belanda di Hotel Yamato

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman (18 September 1945), mengibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato. Padahal Indonesia sudah merdeka. Pemuda Surabaya yang menyaksikan hal tersebut, marah. Mereka anggap, Belanda menghina kedaulatan Indonesia dan mau kembali menguasai negeri ini. Soedirman, Residen Surabaya masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono.

Beliau minta Ploegman dan kawan-kawannya segera menurunkan bendera Belanda tersebut. Ploegman menolak, bahkan mengeluarkan pistol sehingga terjadi perkelahian. Ploegman tewas dicekik Sidik yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang ada di hotel. Hariyono melarikan diri ke luar hotel dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda. Mereka merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.

Pasukan Sekutu Memasuki Surabaya

Pasukan Sekutu datang ke Indonesia (25 Oktober 1945) untuk melucuti senjata tentara Jepang dan membebaskan orang-orang Eropa yang menjadi tawanan perang. Di antara tawanan-tawanan ini terdapat orang-orang Belanda juga. Tentara sekutu di Surabaya adalah militer Inggris dari Brigade Infantri India 49 Maratha dipimpin Brigadir Mallaby. Pasukan ini berisikan orang-orang India dalam militer Inggris yang disebut Indian Army. Para pemuda Surabaya melawan tentara Sekutu yang sebelumnya melucuti senjata di tangan pemuda.

Terjadi pertempuran selama tiga hari di antara Brigade 49 dengan pejuang republik dari berbagai elemen. Setiap pos militer Inggris dihancurkan. Pejuang Republik Indonesia itu tak menghiraukan jumlah korban yang jatuh. Sumber-sumber Indonesia menyebutkan, Inggris kewalahan dan hampir habis di Surabaya. Jenderal DC Hawthorn meminta bantuan Presiden Soekarno untuk meredakan suasana.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby

Gencatan senjata di antara Indonesia dan Inggris ditandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945 di mana keadaan berangsur reda. Namun, tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur (30 Oktober 1945) oleh tembakan pistol seorang pemuda Surabaya.

Kematiannya menyebabkan Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh sebagai penggantinya, mengeluarkan ultimatum 10 November 1945. Ultimatum tersebut berisi perintah agar pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan terhadap tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Meskipun kalah serta kehilangan anggota dan persenjataan, pertempuran yang dilancarkan pasukan Republik, membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaannya dan menarik perhatian internasional. Namun, selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda.

NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Masyumi dan Fatwa Jihad

Menghadapi pasukan Sekutu, utusan Bung Karno menemui KH Hasyim Asy’ari, minta dikeluarkan fatwa tentang bela negara. KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar NU mengeluarkan resolusi jihad (22 Oktober 1945). Tanggal 25 Oktober, Inggris mendarat di Surabaya. Pengaruh Fatwa Jihad tersebut, pasukan Inggris di mana-mana diserang oleh masyarakat muslim Surabaya dan sekitarnya. Bahkan, Jenderal Mallaby terbunuh. Tanggal 10 November, semua umat Islam, bahkan yang berasal dari Cirebon turut dalam pertempuran. Ternyata, utusan Soekarno tersebut adalah Ruslan Abdul Ghani, Sekretaris Menteri Penerangan, Mohammad Natsir.

Ruslan Abdul Ghani, mantan Menteri Luar Negeri era presiden Soekarno, mengumpulkan arek-arek Surabaya di Jakarta (1987). Pertemuan tersebut dalam rangka kangen-kangenan memperingati peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Dalam obrolannya, Ruslan Abdul Ghani menanyakan hadirin, siapa yang punya ide untuk mengeluarkan Fatwa Jihad yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari. Hadirin diam. Ruslan kemudian berkata, ide itu lahir dari Mohammad Natsir yang waktu itu menjabat Menteri Penerangan.

“Saya adalah sekretaris Menteri Penerangan waktu itu. Pak Natsir perintahkan saya agar menghubungi KH Hasyim Asy’ari untuk keluarkan fatwa jihad,” kata Ruslan Abdul Ghani.

Dalam pertemuan itu, hadir pak Suhud, orang Jawa Timur yang aktif di DDII. Bellau sering berkomunikasi dengan pak Natsir. Informasi tersebut ditanyakan pak Suhud ke pak Natsir ketika beliau ada di masjid Al Munawarah, Tanah Abang. Pak Suhud yang ditemani saudara Hafidz menanyakan, apakah cerita Ruslam Abdul Ghani tersebut benar? Pak Natsir membenarkan. “Mengapa tidak dipublikasikan,” tanya pak Suhud ke pak Natsir. “Untuk apa?” jawab pak Natsir.

Jawaban pak Natsir tersebut menunjukkan keikhlasan dan kebesaran jiwa beliau dalam berjuang untuk bangsa dan negara. Sama halnya dengan Agus Salim yang tidak menonjolkan diri sebagai orang yang mengkonsepkan alinea keempat Mukadimah UUD 45. Begitulah prestasi Masyumi dalam membangun NKRI.

Peristiwa 10 November 1945

Mayjen Robert Mansergh, setelah meninggalnya Brigjen Mallaby, mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi pada tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan perjuangan. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan, Indonesia sudah merdeka dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Bung Tomo, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati di Surabaya. Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan. Namun, mereka mendapat perlawanan keras dari pasukan dan milisi Indonesia. Sebab, Bung Tomo dengan pekikan takbir dan merdeka di RRI, perlawanan rakyat tidak pernah merosot.

Apalagi, adanya fatwa KH Hasyim Asy’ari dan seruan, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya. Para kiyai tersebut mengerahkan para santri mereka dan bersama masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan sehingga pasukan Sekutu kewalahan. Perlawanan yang berlangsung selama tiga pekan tersebut setidaknya mengorbankan 6,000 – 16,000 pejuang. 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Pasukan Inggris dan India yang korban sekitar 600 – 2000 tentara.

Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk melakukan perlawanan. Hasilnya, dunia internasional mengakui kedaulatan Indonesia. Itulah sebabnya, hari ini dikenang dan ditetapkan sebagai hari pahlawan. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here