Masya Allah! Meski Dibelah Tsunami, Masjid Jami Pantoloan Tetap Utuh

902

Tsunami datang membelah masjid

Suara gemuruhnya masih diingat betul oleh Alif. Hanya berselang beberapa menit usai gempa besar mereda, Alif dan jamaah masjid lain yang berlari ke halaman luar masjid, menyadari suara gemuruh besar datang dari arah laut.

“Suaranya itu besar sekali. Gemuruh setelah gempa. Ternyata itu tsunami. Tingginya setinggi pohon kelapa,” ujar Alif mengingat momen-momen kritis di Jumat petang itu.

Dari kejauhan di arah utara, Alif menyimak betul, gemuruh tsunami datang mendekat.

“Pertama itu air naik vertikal, berdiri. Air bergerak cepat sekali dari sana (utara) ke mari (ke arah Masjid Jami Pantoloan). Seketika itu kami lari ke atas gunung. Tapi kuasa Allah, tsunami itu dia belah ini masjid. Dia lompati itu masjid, tsunami tidak pernah menghantam masjid,” ujarnya selagi memisahkan kedua tangannya ke kanan dan kiri, menirukan bagaimana air tsunami membelah.

Ya, keajaiban terjadi. Tsunami tak sampai menyapu bersih Masjid Jami Pantoloan. Bahkan, hantaman keras tsunami tidak pernah bertemu dengan dinding Masjid Jami Pantoloan. Air tsunami itu membelah, membagi dua alirannya tapi menyapu habis pemukiman di sekeliling masjid.

Ketika gulungan tsunami datang, Alif dan jamaah lain berkisah, sempat mengungsi ke atas bukit. Jaraknya tak begitu jauh dengan pesisir pantai.

“Kami lari ke bukit. Selesaikan shalat Maghrib di atas bukit. Lalu kami kembali ke bawah. Kami kaget masjid nggak kena hantaman (tsunami) itu. Di dalam masjid hanya ada air laut yang pasang saja, setinggi dengkul. Tapi tidak ada yang hancur. Tembok tidak ada yang retak,” kisahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here