Masuk Zaman Kebodohan, Gus Baha Menangis Ketika Membaca Hadits Ini

256
Gus Baha. (Foto: narasi)

Jakarta, Muslim Obsession – KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab dipanggill Gus Baha mengatakan, ada hadits yang jika dibaca dirinya selalu menangis. Hadits itu menyangkut tanda-tanda kiamat. Dimana salah satu tandanya adalah manusia masuk dalam zaman kebodohan.

“Saya membaca ini menangis sejadi-jadinya. Setiap teringat hadits ini saya menangis. Saya takut anak cucu kita nanti akan mengalami masa kebodohan,” tuturnya sebagaimana disiarkan kanal Kalam dalam jaringan YouTube, belum lama ini.

Menurutnya saat ini orang pun sudah masuk dalam zaman kebodohan, dan hilangnya ilmu dan adab, meski orang luar menyebut dunia sekarang masuk dalam zaman modern, dan semua serba canggih, tapi logika itu kata Gus Baha kebalik.

Dia lalu mencontohkan bahwa dalam kasus maksiat juga ada etika. Orang yang nonton konser yang mempertontonkan aurat, jika masuknya membeli tiket, maka dia dianggap penonton yang baik. Sebaliknya, jika tidak pakai tiket, maka dia adalah penonton jelek.

“Padahal di mata Allah sama jeleknya karena menonton pornografi,” jelas Gus Baha.

Ilmu itu nanti pasti hilang oleh etika sosial meski dalam etika sosial itu terjadi kebobrokan agama. “Itu yang paling saya takutkan. Nanti kebaikan ada dalam keburukan.”

Menurut Gus Baha, inilah yang dimaksud hadits Nabi bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah hilangnya ilmu dan menyebarnya kebodohan.

Hadits yang dimasud adalah seperti yang dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ.

‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.’”

Hadits ini tercantum dalam Shahiih al-Bukhari, kitab al-‘Ilmu bab Raf’ul ‘Ilmi wa Zhuhuurul Jahli (I/178, al-Fath, dan Shahiih Muslim, kitab al-‘Ilmi bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan fi Aakhiriz Zamaan (XVI/222, Syarh an-Nawawi).

“Saya membaca hadits ini menangis,” ucap Gus Baha lagi. “Maka saya bersumpah, sampai mati pun saya akan ngomong ilmu,” lanjutnya.

Gus Baha juga memberi conton lain bahwa nanti ilmu akan kalah dengan etika kemaksiatan.

Definisi pembeli yang baik, katanya, adalah pembeli yang tidak utang, tak peduli pembeli itu mengenakan rok mini, suka maksiat dan seterusnya. “Orang shalih, rajin shalat, puasa, jika sering utang maka dia menjadi pembeli yang buruk,” jelasnya.

Ini sama dengan pengurus masjid yang meminta sumbangan kepada seorang pejabat yang korup. Sang pejabat memberi 10 juta, sedangkan orang yang suka itikaf hanya 10 ribu. Makanya pengurus masjid menganggap si pejabat korup itu orang baik. Bukan orang yang gemar itikaf.

Lebih jauh, Gus Baha juga memberi contoh prestasi yang dilakukan seorang kiai dianggap biasa saja. Sedangkan jika itu dilakukan presiden atau menteri menjadi luar biasa. “Padahall mereka itu digaji memang untuk melakukan itu. Sedangkan kiai tidak digaji.” (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here