Masjid Luar Batang, Cahaya dari Utara Jakarta

2862
Masjid Luar Batang
Masjid Luar Batang

Muslim Obsession – Siapa sangka, Jakarta yang dikenal sebagai pusat perkembangan ekonomi, pemerintahan, pendidikan, hingga infrastruktur ini, nyatanya masih menyimpan cahaya yang tak pernah surut sinarnya. Tepatnya, cahaya pembangkit ruhiyah bagi siapapun yang berkunjung ke tempat tersebut.

Tempat itu bernama Masjid Luar Batang. Bagi masyarakat Betawi, masyarakat ini sangat masyhur karena menyimpan rekam jejak yang monumental. Namun tak hanya masyarakat Betawi, masji ini juga ternyata terkenal di seantero Nusantara bahkan mancanegara.

Nama Masjid Luar Batang sempat hangat diperbincangkan saat isu penggusuran mengemuka di tahun 2016. Ketika itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dituding memiliki rencana bakal menggusur kawasan Luar Batang yang di dalamnya terdapat masjid keramat ini.

Rencana itu sontak ditolak. Tak hanya warga Luar Batang, penolakan juga datang dari elemen warga Jakarta lainnya, para tokoh, dan ormas-ormas Islam.

Masjid Luar Batang dikenal sebagai gerbang masuknya agama Islam di tanah Jakarta. Masjid bersejarah ini masih berdiri kokoh di tengah kesesakan ibu kota yang semakin mencekik. Memberikan sejuta cahaya ketenangan bagi siapapun yang berkunjung.

Bertempat di utara kota Jakarta, tepatnya di wilayah Penjaringan, masjid ini tidak pernah sepi dikunjungi orang-orang yang tidak hanya dari Jakarta saja. Setiap hari, orang berbondong-bondong berkunjung dengan keyakinan mendapat keberkahan setelah ziarah di sana.

Masjid yang memiliki luas kurang lebih 3500 meter persegi ini memang terkenal sakral, karena di sinilah segaris cahaya Islam mulai digoreskan. Di sini pula sang pembawa cahaya Islam di tanah Jakarta itu dimakamkan.

Habib Husein bin Abubakar Alaydrus atau lebih sering dikenal dengan Habib Husein, menyebarkan agama Islam melalui jalur perdagangan di Sunda Kelapa. Pelabuhan yang saat itu sangat ramai menjadi celah bagi Habib Husein muda memulai ajaran agama Islam di tanah Jakarta.

Mulanya Habib Husein hanya membangun surau kecil sebagai tempat beribadah dan tempat belajar Islam. Namun, semakin banyaknya orang yang tertarik mempelajari Islam akhirnya dibangunlah masjid yang lebih besar lagi dengan nama Masjid An-Nur.

Seperti yang diceritakan oleh cucu Habib Husein pada salah satu media, berubahnya nama masjid tersebut karena adanya cerita yang beredar di masyarakat bahwa pada saat Habib Husein wafat tahun 1756 jenazahnya hilang saat hendak dikebumikan. Masyarakat percaya jasad Habib Husein berada di Masjid An-Nur, hingga ketika itu masyarakat pun mengubah nama masjid menjadi “Luar Batang”, maksudnya keluar dari kurung batang.

“Dulu Masjid dinamai An-Nur karena ada suatu kejadian. Karena masyarakat menyebut Habib keluar dari kurung batang, maka dikeramatkan dan nama An-Nur hilang diganti dengan Masjid keramat Luar Batang,” ujar cucu Habib Husein, Habib Muhammad Bin Husein Alaydrus.

Di masjid ini masyarakat juga bisa sekaligus berziarah ke makam Habib Husein dan makam muridnya, yang merupakan keturunan Tionghoa bernama Haji Abdul Khadir. Kedua makam itu sangat dijaga, bentuk makam tidak berubah sampai saat ini. Hanya saja, pada bagian luar makam diberi pembatas kayu berukir sebanyak tiga lapis. Pembatas jati yang diukir itu baru dipasang sekitar tahun 1996.

Selain berharap keberkahan dari Allah Swt.  Orang-orang yang berziarah juga berharap ketenangan setelah beribadah di masjid ini.

Pengajian atau acara-acara Islam rutin diadakan di Masjid Luar Batang, seperti maulid dan haul Habib Husein yang diadakan rutin tiap setahun sekali. Tidak hanya itu, di waktu-waktu tertentu juga sering diadakan pengajian yang selalui dipadati jamaah dari berbagai daerah.

“Minggu pertama awal bulan Hijriah ada kegiatan zikir dan istighasah, setiap malam Minggu ada pengajian jamaah, setiap malam Jumat Kliwon dari Majelis Taklim yang dipimpin oleh Habib Mustofa Alaydrus,” terang Habib Muhammad.

Demi melestarikan masjid bersejarah ini, Masjid Luar Batang telah mengalami beberapa kali pemugaran. Awal pemugaran sekitar tahun 1929, sampai saat ini dipugar kembali tahun 1997, dan tahap kedua tahun 1999, dan tahap ketiga sampai tahun 2002.

Habib Muhammad Bin Husein Alaydrus berharap agar Masjid Luar Batang ini mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah, dan memasukkan masjid keramat ini ke dalam cagar budaya untuk terus dilestarikan.

“Saya berharap supaya masjid ini ada yang ngurusin, karena sampai sekarang masjid ini baru mempunyai dua menara, kurang dua menara lagi,” ucapnya. (Meutia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here