Masjid Kongo Disebut Masjid Paling Sepuh di Afrika Timur

127
Masjid Kongo (Foto: Nation)
Muslim ObsessionDi tengah pohon baobab yang besar di bagian utara garis pantai Diani, terdapat masjid Kongo. Letaknya memikat menghadap ke Samudra Hindia. Konon, masjid ini telah berdiri selama ratusan tahun lalu.
Diyakini warga setempat, Masjid Kongo dibangun menggunakan batu karang antara abad 13 dan 14 oleh pedagang Arab. Pada saat itu, pantai adalah pusat ekonomi yang penting. Masjid ini kemudian terkenal sebagai salah satu masjid tersepuh atau tertua di Afrika Timur dan uniknya masih menarik banyak jamaah.
Dulunya, masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Diani Persia. Arsitektur bangunan ini juga nampak seunik penemuannya. Nama Kongo diambil dari nama yang tertulis di sebuah batu, di salah satu kuburan yang berada di kompleks masjid. Tempat di mana Muslim yang setia kepada Swaddiq Kongo dikuburkan berabad-abad lalu.
Dikutip dari Nation, Kamis (12/7/2018) di kompleks Masjid Kongo, ada beberapa kuburan yang diyakini milik orang-orang yang membangunnya. Menurut catatan sejarah, masjid ini dibangun dan digunakan oleh para pedagang Arab untuk shalat.
Tapi, masjid tersebut ditinggalkan begitu saja ketika orang-orang Arab meninggalkan pantai. Hewan liar dan semak-semak kemudian tinggal dan tumbuh di sana. Pohon baobab yang besar, secara bertahap menyelimuti masjid dan nyaris membuatnya tidak terlihat.
Bahkan, sangat sedikit orang yang tahu keberadaan masjid tersebut. Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, 300 tahun lalu cendekiawan Muslim asli Mwinyi Kombo, diduga mendapat wahyu dalam tidurnya yang mengarahkan dirinya pergi ke masjid tersebut.
Saat ini, beberapa penyesuaian telah dilakukan, termasuk pendirian tiga pilar utama untuk menopang masjid. Interiornya pun direnovasi menggunakan material bangunan modern seperti semen dan cat.
Masjid yang dinyatakan kuno itu diberi warna cat hijau dan putih. Bangunan juga diperluas untuk mengakomodasi peningkatan jumlah jamaah.
Cerita unik lainnya ialah, keberadaan batu bulat besar di laut yang hanya dapat diakses saat air surut. Penduduk setempat percaya bahwa batu itu suci. Karenanya, banyak masyarakat setempat menggunakannya untuk ritual keagamaan. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here