Masihkah Al-Quran Bersama Kita?

566

Oleh: Dr. KH. Husnan Bey Fananie (Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan)

Alhamdulillah, saat ini kita telah memulai Ramadhan di tahun 1439 Hijriyah. Dari Baku Azerbaijan, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan. Semoga kita mendapat bimbingan, kekuatan, ampunan, rahmat, dan ridha dari Allah Ta’ala. Aamiin.

Salah satu keutamaan bulan suci Ramadhan adalah diturunkannya Al-Quran atau yang kita kenal dengan Nuzulul Quran. Turunnya Al-Quran membawa perubahan bagi manusia di muka bumi karena kitabullah merupakan petunjuk bagi manusia untuk memperoleh jalan yang benar menuju cahaya iman dan Islam. Al-Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. berfungsi sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat.

Konsep-konsep yang dibawa oleh Al-Quran selalu relevan dengan problematika yang dihadapi manusia, karena itu ia turun untuk mengajak manusia berdialog dengan penafsiran sekaligus memberikan solusi terhadap problematika tersebut di manapun dan kapan- pun mereka berada.

Maka tak heran jika Rasulullah Saw. Mensyaratkan kita untuk tidak berpaling dari dua hal, yakni Al-Quran dan Al-Hadits agar arah hidup umatnya tidak tersesat. Namun, masihkah Al-Quran bersama kita? Pertanyaan ini jelas menggelitik keimanan kita sebagai hamba Allah Swt. Terlebih bagi kita yang tak pernah lagi menjadikan Al-Quran sebagai rujukan dalam kehidupan. Jangankan menjadikannya rujukan, mungkin kita sudah sangat lama tak lagi membaca Al-Quran dan bahkan menyentuhnya.

Al-Quran hanya dijadikan hiasan rumah yang ditaruh di dalam rak buku atau di atas lemari. Menjadikan Al-Quran sebagai hiasan seperti itu bukanlah cara untuk menghormatinya. Sikap ini justru mengerdilkan fungsi Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia. Di sisi lain, tanpa disadari, kita justru membiarkan diri kita tergelincir dalam kubangan kesesatan karena tiadanya pedoman dan petunjuk dari Sang Maha Pengatur Kehidupan. Kita melulu disusupi dan mengikuti hawa nafsu sebagai jalan setan.

Jika menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup masih dianggap sulit, cobalah memulainya dengan membacanya. Tak perlu membaca Al-Quran hingga beberapa surat, tapi cobalah beberapa ayat saja asalkan terus-menerus. Misalkan, dalam sehari kita menyisakan waktu selepas Maghrib atau Subuh untuk membaca beberapa ayat Al-Quran, asalkan kontinyu.

Ingatlah bahwa perbuatan baik yang dikerjakan secara terus-menerus sangat dicintai Allah ‘Azza wa Jalla. Sabda Rasulullah Saw., “Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit,” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafazh Muslim dari Aisyah ra).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here