Masih Trauma Gempa, Siswa di Lombok Barat Enggan Sekolah

440
ACT Bagikan 50 perlengkapan sekolah untuk siswa terdampak gempa di Lombok (Foto: ACT)

Lombok Barat, Muslim Obsession Siapa sangka tragedi gempa Lombok masih tinggalkan trauma? Namanya Zulkahfi, siswa kelas 1 Madrasah Ibtidaiah (MI) Raudlatusshibyan NW Dusun Belencong, Desa Midang, Kabupaten Lombok Barat. Bocah 6 tahun ini mengaku masih merasakan trauma mendalam akibat gempa.

Sebelum gempa yang terjadi berturut-turut di Lombok, Zulkahfi adalah seorang anak yang mandiri dan pemberani. Setiap hari ia berangkat ke sekolah tanpa harus diantar maupun dijemput. Meski ia harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit berjalan kaki karena jarak rumah ke sekolah cukup jauh.

Namun, sudah seminggu Sukiah, sang ibunda harus mengantar dan menemani Zulkahfi ke sekolah. Rupanya tragedi gempa sejak Ahad (29/7/2018) lalu itu menyisakan rasa trauma yang cukup mendalam bagi Zulkahfi. Ia sudah tidak berani lagi ke sekolah seorang diri. Apalagi gempa susulan masih sering terjadi.

“Sempat tidak sempat saya harus mengantar dan menemaninya. Kalo ndak begini, dia ndak mau sekolah,” kata Sukiyah kepada ACT dilansir Ahad (16/9/2018).

Sebenarnya aktivitas belajar-mengajar Yayasan Raudlatusshibyan sudah berlangsung sejak Senin (2/9). Namun, tidak semua siswa kembali masuk sekolah. Itu karena masih banyak dari mereka yang takut kalau gempa susulan kembali terjadi.

Bahkan kegiatan sudah dilakukan di luar ruangan dengan menggunakan tenda darurat dan juga musala yang bangunannya terbuka tanpa dinding.

“Kalau ada guncangan sedikit saja, anak-anak itu langsung lari-lari sambil nangis. Mereka masih trauma, saya juga tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya,” ujar Ibu Sukiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here