Maryam Turun ke Bumi!

461

Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation, New York

Sekitar 4 tahun lalu saya diundang untuk menghadiri konferensi perdamaian yang melibatkan komunitas Muslim dan Yahudi di Seville, Spanyol. Konferensi ini bertujuan untuk mengenang masa-masa kejayaan Islam di Spanyol, dan masyarakat Yahudi ikut mengapresiasi realita itu.

Salah seorang murid muallaf saya hadir serta sebagai pengamat. Namanya Elizabeth, yang saat itu masih di tahun terakhir di Columbia University. Bersama Liz, demikian biasa dipanggil, hadir pula beberapa pelajar dari berbagai universitas Amerika.

Liz telah memeluk Islam sejak 3 tahun sebelumnya. Dan hingga keberangkatannya ke Seville dia masih menyembunyikan keislamannya itu keorang tuanya. Sehingga keberangkatannya ke Seville juga disampaikan ke orangtuanya sebagai perjalanan studi banding.

 

Maryam turun ke bumi

Selama di Seville Elizabeth bersemangat belajar dari semangat damai yang dimiliki oleh ajaran Islam. Nampak selalu berada di kursi yang strategis untuk memperhatikan diskusi atau dialog yang terjadi.

Di sela-sela acara dialog itu peserta memiliki banyak kesempatan untuk jalan-jalan dan melihat-lihat gedung-gedung klasik yang ada di kota itu. Gereja besar dan megah ada di mana-mana. Tapi uniknya di dalam gereja itu penuh dengan kaligrafi dan tulisan nama Allah dan Muhammad.

Ternyata gereja-gereja besar itu dahulunya adalah masjid-masjid megah yang dibangun oleh penguasa Muslim. Tapi setelah ditaklukkan oleh raja Katolik, masjid-masjid itu banyak yang dijadikan gereja oleh mereka. Sebagian dijadikan bar atau night club.

Di sinilah Liz mengalami sesuatu yang unik. Karena orangnya tinggi semampai, putih dan berwajah bersih, dan selalu dengan pakaian Muslimah yang rapi, dia selalu menjadi perhatian. Orang-orang di jalan akan selalu menatapnya dengan keheranan.

Sampai suatu saat dia memberanikan diri bertanya kepada orang-orang yang menontonnya.

“Kenapa kalian melihat-lihat saya seperti itu?” tanyanya dengan sopan.

Salah seorang di antara mereka, entah bercanda atau serius mengatakan, “Ketika kami melihat kamu, seolah kami merasakan kehadiran Bunda Maria di antara kami.”

Ternyata orang-orang Seville atau Spanyol itu sangat beragama dan cinta kepada Yesus dan ibunya. Sehingga melihat wajah Liz yang mirip Bunda Maria mereka seolah kedatangan Bunda Maria.

Mendengar itu Liz hanya tersenyum manis. Orangnya memang pendiam tapi sangat pintar dan sopan. Kerap kali di kelas hanya menyimak dan jarang berbicara. Tapi paling cepat paham dan menghafal ayat-ayat Al-Quran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here