Mariyah Al-Qibtiyah, Wanita Mesir Istri Rasulullah

3020
Perempuan Arab
Ilustrasi: perempuan Arab.

Muslim Obsession – Mariyah Al-Qibtiyah adalah sosok wanita Mesir yang merupakan istri Rasulullah Saw. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syamaún. Ia dilahirkan di dataran tinggi Mesir, yang dikenal dengan nama Hafn.

Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya yang berasal dari suku Qibti. Sedangkan ibunya adalah penganut agama Masehi Romawi. Setelah dewasa, ia dan saudara perempuannya bernama Sirin, dipekerjakan pada Raja Muqauqis.

Suatu hari, Rasulullah Saw. mengirm surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah. Isi surat itu merupakan seruan bagi Raja Muqauqis agar memeluk Islam. Kedatangannya disambut hangat oleh raja. Namun, ia dengan ramah menolak untuk memeluk agama Islam.

Raja justru mengirimkan Mariyah, Sirin dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah Saw. Di tengah perjalanan, Hatib merasakan kesedihan Mariyah karena ia harus meninggalkan kampung halamannya.

Kemudian, Hatib menghibur mereka dengan menceritakan tentang kepribadian Rasulullah juga tentang Agama Islam. Dari cerita itu, mereka merasa tertarik dan memutuskan menerima ajakan itu.

Rasulullah Saw. telah menerima kabar penolakan Raja Muqauqis. Betapa terkejutnya beliau terhadap budak pemberian raja. Maka, Rasulullah mengambil Mariyah dan menyerahkan Sirin kepada penyair beliau bernama Hasan bin Tsabit.

Dengan kehadiran seorang wanita Mesir yang sangat cantik, ternyata membuat istri-istri Rasulullah Saw. yang lain merasa cemburu.

Oleh karena status Mariyah yang ketika itu masih sebagai hamba sahaya, maka Rasulullah tidak menempatkannya di samping Masjid Nabawi, seperti para Ummul Mukminin. Melainkan, beliau menempatkannya di Aliyah, di luar Kota Madinah. Yang sekarang bernama Masyarabat Ummu Ibrahim, dalam sebuah rumah di tengah-tengah kebun anggur.

Dengan adanya Mariyah di tempat itu, Rasulullah sering berkunjung ke sana. Demikian itu tidak lebih dari suatu kejadian biasa antara suami dan istri. Antara seorang laki-laki dan hamba sahaya yang sudah dihalalkan baginya.

Di usia Rasulullah yang sudah lebih dari 60 tahun, Allah menghendaki Mariyah Al-Qibtiyah mengandung. Betapa gembiranya hati Rasulullah. Terlebih, setelah putera-puterinya Abdullah, Qasim, Ruqayyah dan Zainab wafat.

Kehamilan ini juga membuat istri-istri lain cemburu, karena telah beberapa tahun menikah, namun tidak kunjung dikaruniai anak. Dengan kehamilannya itu, Rasulullah memerdekakan Mariyah sepenuhnya.

Api cemburu semakin membakar hati istri-istri beliau, setelah kelahiran bayi Mariyah yang diberi nama Ibrahim. Suatu perasaan yang telah Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Terlebih, perhatian Nabi kepada bayi Ibrahim semakin besar.

Pernah suatu ketika Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya. “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita, kecuali kepada Mariyah. Karena ia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik padanya.”

Pada suatu hari, Rasulullah datang kepada Aisyah sambil menggendong Ibrahim, beliau berkata, “Wahai istriku, lihatlah betapa miripnya ia (Ibrahim) denganku.” Aisyah menjawab, “Tidak ada kemiripan antara engkau dengannya (Ibrahim).”

Aisyah Nampak marah. Begitu pun dengan istri-istri beliau lainnya. Pernah terjadi suatu ketika, Rasulullah Saw. menempatkan Mariyah di kamar Hafshah yang saat itu Hafshah sedang mengunjungi ayahnya.

Hafshah, yang memang paling besar rasa cemburunya, sampai menunggu di luar kamar. Setelah Mariyah keluar, Hafshah menjumpai Rasulullah Saw. lalu berkata, “Saya sudah melihat siapa yang bersamamu tadi. Sungguh, engkau telah menghina saya. Engkau tidak akan berbuat demikian, kalau bukan karena kedudukanku yang rendah.”

Rasulullah segera menyadari, bahwa rasa cemburulah yang membuat istrinya bersikap demikian. Kemudian beliau membujuk Hafshah dan meredakan amarahnya. Bahkan beliau bersumpah akan mengharamkan Mariyah baginya, kalau Mariyah tidak meminta maaf pada Hafshah.

Nabi meminta Hafshah agar merahasiakan hal itu. Namun, karena rasa cemburunya yang begitu besar, ia menceritakan kejadian itu kepada istri-istri lain. Tersebarnya kabar itu, membuat Rasulullah murka.

Nabi bermaksud meninggalkan istri-istrinya dan mengancam mereka dengan perceraian, demi memberikan pelajaran. Namun Allah menegur Nabi dengan Surat At-Tahrim (66) 1-5. Setelah itu, kehidupan rumah tangga Nabi berangsur membaik.

Namun, kabar duka kembali menyelimuti hati Nabi. Karena, bayi Ibrahim hanya bertahan 18 bulan. Ia jatuh sakit dan meninggal dunia. Kejadian ini meninggalkan kesedihan yang amat mendalam di hati Nabi.

Waktu bergulir, Rasulullah Saw. wafat. Istrinya, Mariyah hidup menyendiri dan mengisi hidupnya dengan beribadah kepada Allah. Selang lima tahun dari wafatnya Nabi, Mariyah meninggal dunia pada tahun ke-16 Hijriah, yakni pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab.

Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah Al-Qibtiyah, kemudian dimakamkan di Baqi’. Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt.

Wallahu ‘alam bis shawab. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here