Manifesto Politik Perhimpoenan Indonesia dan Mitologisasi Sumpah Pemuda

248

Oleh: Lukman Hakiem (Peminat Sejarah)

MEMULAI Kata Pengantar untuk buku Sartono Kartodirdjo, Sejak Indische sampai Indonesia (Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2005), Taufik Abdullah menulis: “Pada tahun 1922 De Indische Vereeniging –perkumpulan  mahasiswa yang datang dari ‘tanah Hindia’ di negeri Belanda– mengubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Dengan begini maka sifat organisasi itupun mengalami perubahan yang cukup drastis –dari sekadar  perkumpulan sosial kemahasiswaan menjadi organisasi yang memperlihatkan kecenderungan politik.”

Kata “Indonesia” yang semula hanya merupakan konsep geografis dan antropologis, ketika dipakai menjadi nama organisasi oleh “segelintir pemuda terpelajar dari tanah Hindia”, menurut Taufik, serta merta menjadi konsep  politik.

Jauh Lebih Dahulu

MENURUT Prof. Sartono Kartodirdjo sejak dekade 1920-an di Indonesia timbul gerakan emansipasi politik yang ditandai dengan lahirnya organisasi politik, organisasi bukan politik, dan study club.

Sejak awal abad XX para pemuda Indonesia mulai menuntut ilmu di negeri Belanda. Mereka menyebar antara lain di Leiden, Amsterdam, Rotterdam, dan Wageningen.

Timbul lah gagasan di kalangan para pemuda terpelajar itu untuk membentuk perkumpulan. Gagasan untuk bergabung dengan Boedi Oetomo atau Indische Party ternyata tidak popular. Mereka kemudian mendirikan De Indische Vereeniging  yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeniging.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here