Mang Endut Pengin Langsing (Bagian 2)

169

“Yang pertama, menahan lapar dapat menyucikan hati, menerangi hati (qarihah), dan menajamkan kecerdasan (bashirah). Sebaliknya, kekenyangan hanya akan mewariskan kebodohan, membutakan hati, dan memperbanyak uap air di dalam otak sehingga mampu menutup sumber-sumber pemikiran, sehingga hati kesulitan menjalankan fungsi dalam berpikir dan memahami segala sesuatu dengan cepat.

Begitu juga bagi seorang anak yang kelewat banyak makan, dia akan menghadapi risiko lemah daya ingat dan rusaknya kecerdasan sehingga dia menjadi idiot dan lamban dalam berpikir,” papar Aki Eyot sambil menghela nafasnya.

Baca kisah Mang Endut lainnya:

Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 1)

Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 2)

Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 3)

Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 4)

“Kedua, menahan lapar mampu melunakkan dan menjernihkan hati sehingga siap merasakan kebahagiaan bermunajat kepada Allah dan mendapat faedah dari mengingat-Nya. Lidah kita sering berdzikir dengan hati yang khidmat, tetapi kita tidak merasakan kebahagiaan atau kesan yang mendalam.

Antara kita yang berdzikir dan rasa bahagia seolah terdapat dinding yang sangat tebal karena diciptakan oleh kekerasan hati. Di lain waktu, hati kita kadang mampu menangkap rasa bahagia dengan bermunajat kepada Allah. Umumnya, perut kosong itulah yang menjadi faktor tertangkapnya rasa bahagia.

Abu Sulaiman Ad-Darani sampai berkata: ‘Ibadah yang paling manis bagiku adalah ketika perutku menempel di punggungku’. Sementara ulama sufi lainnya Abu Sualiman mengatakan: ‘ketika hati lapar dan haus ia menjadi jernih dan lunak, tetapi ketika kenyang ia menjadi buta dan keras’. Dengan rasa lapar, para ulama sufi mampu merasakan nikmatnya berdekatan (munajat) dengan Allah, mudah berkontemplasi dan mencapai makrifat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here