Mang Endut Pengin Langsing (Bagian 1)

264

TAK seperti biasanya, angin pagi di kawasan Bogor kali ini tidak begitu menggigit, menusuk lebih dalam ke rongga-rongga tulang. Selimut tebal yang semalam dipakai pun mulai disingkirkan karena rasa gerah sudah sangat terasa.

Padahal, semalam hujan tampak begitu lebat dengan petirnya yang sesekali menghentakkan telinga. Sudah sejak senja masyarakat di komplek itu tak beranjak ke luar rumah karena lebih memilih mendekam di bilik kehangatan sambil berselimut dan memicingkan mata.

Di awal hari sebelum matahari terbangun dari tidurnya, sejumlah pedagang sudah berteriak menjajakan dagangannya. Bahkan, warung sayur Pak Dhe sudah dikerubuti ibu-ibu yang tidak mau kehabisan bahan-bahan masakannya.

Sontak, teriakan khas ibu-ibu pun segera mengambil alih suasana pagi yang hening itu menjadi sangat bising.

Jarum jam tepat mengarah pada angka 5 ketika Mang Endut dan Nyi Larung membuka pintu rumah. Nyi Larung yang selesai berbelanja di warung sayur Pak Dhe dengan setengah memaksa mengajak suaminya, Mang Endut, berolahraga.

Kebiasaan Mang Endut memang tidak pernah berubah. Selesai melaksanakan salat Subuh dia tidur lagi. Apalagi jika keesokan harinya Mang Endut libur atau setelah semalaman begadang nonton wayang di televisi, kasur empuk pun menjadi sasaran kegiatan berikutnya.

Badan besarnya segera melingkar atau kadang membentuk posisi jajaran genjang memenuhi ranjang.

“Wah, segerrr sekali, ya Kang?” tanya Nyi Larung, setelah pintu kembali tertutup.

“Iya, Nyi. Ooaah..” jawab Mang Endut singkat sambil tangannya menutup mulut karena menguap.

“Si Akang mah, masih saja menguap. Ayo bangun! Kita lari!” teriak Nyi Larung memberi semangat. Bahkan tak hanya teriakan, sejurus kemudian cubitan keraspun dialamatkan ke pinggang suaminya.

“Iya, Nyi. Aduuh,” Mang Endut bergelinjang menahan sakit dan tentunya juga menahan marah.

***

Kebersamaan Mang Endut dan Nyi Larung saat berolahraga, tepatnya jalan kaki, hanya sementara saja. Ketika bertemu ibu-ibu lainnya, Nyi Larung lebih memilih teman-teman ngerumpinya itu dibanding suaminya.

Ditinggal sang istri malahan membuat Mang Endut senang, dia bisa dengan leluasa melirik kanan-kiri menonton gratis ‘daun-daun muda’ yang hilir mudik berolahraga.

“Nah gitu dong, Mang Endut. Kalau sering-sering begini kan lama-lama bisa langsing,” tepukan Aki Eyot yang datang dari arah belakang membuat Mang Endut kaget, sekaligus menghilangkan kesempatan melihat lebih ‘seksama’ gadis muda bohay berkaus merah yang baru saja melintas di depan matanya.

“Eh, Aki Eyot. Iya nih mumpung lagi semangat,” ujar Mang Endut sambil tersipu, khawatir kegiatan ‘lirik-lirik’ nya ketahuan.

“Olahraga yang paling baik itu, konon, adalah jalan kaki. Kalau Mang Endut sudah berjalan sejauh ini dari rumah, dalam tiga minggu ke depan, tuh perut pasti jadi langsing,” goda Aki Eyot.

“Ah, bisa saja. Aki masih kuat jalan sejauh ini?” tanya Mang Endut.

“Masih. Aki hampir tiap pagi jalan kaki. Maklum, daripada bosan tidak ada kerjaan mendingan Aki jalan-jalan supaya tetap bugar,” terang Aki Eyot.

Mendengar pekataan Aki, Mang Endut hanya mengangguk. Di dalam hatinya, Mang Endut menyimpan pertanyaan usil, “Ah, paling juga semangat karena banyak gadis-gadis muda. Iya kan, Ki?”

“Olahraga itu membuat kita sehat kalau niat kita juga lurus untuk berolahraga, bukan karena ingin melihat gadis-gadis muda seperti mereka,” sambung Aki seolah kereteg hate Mang Endut mampu ditangkapnya.

Mang Endut terkesiap mendengar kata-kata Aki. Untuk menetralisir kekagetannya, Mang Endut mengayun-ayunkan tangannya seperti gerakan pemanasan ala Vicky Burki yang pernah ditontonnya di televisi.

***

“Kita istirahat dulu Mang Endut. Di bawah pohon kelapa itu kayaknya asyik juga kita mengobrol sambil melihat talaga di pagi hari,” ajak Aki Eyot.

Keduanya berjalan ke arah pohon kelapa yang ditunjuk Aki Eyot. Setelah memesan bubur ayam yang mangkal tidak jauh dari tempat itu, keduanya kemudian terlibat perbincangan yang agak serius.

“Beberapa hari ini saya sering malas mengerjakan sesuatu, Ki. Menurut Aki, apakah hal itu bisa juga diakibatkan karena badan saya yang kelewat gemuk?” tanya Mang Endut.

“Bisa jadi. Kemalasan itu kan datangnya dari setan. Sementara setan beraktifitas melalui aliran darah yang akan terus mengalir kencang jika kita selalu mengkonsumsi sesuatu. Kalau saja kita mau menahan diri untuk tidak makan, maka aliran darah itu akan berhenti. Artinya, setan pun tidak akan mampu beraktifitas. Itulah hikmahnya berpuasa, mampu mengendalikan hawa nafsu yang notabene berasal dari setan,” jawab Aki Eyot panjang lebar.

Aki Eyot yang pensiunan guru agama ini memang dikenal warga sebagai sosok ustadz yang ramah, sederhana, dan mampu memberikan jawaban secara ciamik.

“Sebenarnya, aktifitas setan tidak saja terjadi pada aliran darah orang-orang gendut seperti Mang Endut. Aktifitas setan terjadi pada orang-orang yang kenyang. Makanya, Rasulullah SAW berpesan agar kita selalu berhenti makan sebelum kenyang,” sambung Aki Eyot.

“Dalam kaidah ‘menaklukan jiwa’ yang dibahas Imam Al-Ghazali, kita dianjurkan menahan lapar. Dengan menahan lapar, setidaknya ada sepuluh manfaat di dalamnya. Mang Endut mau tahu kesepuluh manfaat itu?” tanya Aki Eyot.

“Mau, Ki. Kebetulan saya tidak mendengarkan kuliah Subuh pagi tadi di tivi,” jawab Mang Endut.

 

BERSAMBUNG


Penulis: Dzunnun Bilba (Pecinta Literasi Sastra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here