Makna Cinta yang Sejati

77

Oleh: Prof. KH. Husnan Bey Fananie, MA (Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan)

Boleh jadi, “cinta” menjadi sebuah kata paling tua. Meski tidak selalu diucapkan, paling tidak kata “cinta” menjadi penyambung dua hati yang berbeda. Itu pula tampaknya yang terjadi pada Adam dan Hawa. Entah seperti apa bahasa yang mereka gunakan untuk mengungkapkan “cinta”, namun kitab suci mencatat keduanya terusir dari surga akibat bujukan Iblis. Ya, saat itu Adam dan Hawa lebih mencintai bujuk rayu Iblis dibanding mencintai perintah Allah ‘Azza wa Jalla.

Lalu atas nama “cinta” pula Adam dan Hawa memohon ampun atas segala khilaf. Setelah sekian lama keduanya terpisah, akhirnya Allah Swt. berkenan mengampuni dan menyatukan keduanya. Adam dan Hawa kembali meraih “cinta” sebenarnya. Mereka menyadari bahwa sejatinya “cinta” haruslah disandarkan pada Sang Pemilik Cinta, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan nafsu, setiap manusia tentu memiliki rasa cinta. Namun sayangnya, tak setiap manusia dapat meletakkan rasa cinta pada tempat sebenarnya. Bahkan sebagian besar manusia tergelincir saat meletakkan dan mengaplikasikan rasa cinta. Kisah Adam dan Hawa seolah simbol bahwa anak-cucu keduanya, kelak, sangat berpotensi untuk lebih memilih “cinta” berdasarkan bujuk rayu Iblis, dibandingkan “cinta” sebenarnya dari Allah Swt.

Kita bisa berkaca pada sekeliling kita. Banyak kasus mencerminkan ketidakmengertian manusia mengaplikasikan “cinta”. Dan banyak pula yang sebenarnya mengerti namun tidak mau mengerti. Inilah golongan yang benar-benar disesatkan Iblis laknat durjana. Mereka melakukan beragam kemaksiatan dengan atas nama cinta, yang menurut mereka adalah fitrah setiap manusia.

Betul bahwa “cinta” adalah fitrah setiap manusia, namun mereka umumnya memaknai “cinta” sama dengan pelampiasan nafsu. Mereka aplikasikan “cinta” dengan seks bebas (free sex), berselingkuh, hingga perbuatan biadab lainnya yang tak lebih merupakan siasat Iblis. Mereka sejatinya sama sekali tak mengagungkan “cinta” sebagai fitrah setiap manusia.

Dalam Islam, “cinta” memiliki nilai yang sangat tinggi, sangat diagungkan. Bahkan manusia diperintahkan untuk sangat berhati-hati meletakkan “cinta” dalam kehidupannya. Sebab kalau saja salah, maka kesengsaraan di dunia dan kesengsaraan di akhirat lah balasannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here