Makkah Rasa Las Vegas

83

Oleh: Dede Ahmad Permana (Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)

Berhaji pada zaman ini, adalah beribadah di tengah balutan kemewahan dan gemerlap metropolitan. Meminjam istilah penulis terkenal Gunawan Muhammad, berhaji saat ini adalah piknik instan ke kemewahan.

Sa’i saat ini berbeda dengan sa’i-nya Ibunda Hajar dulu. Sa’i zaman ini dilakukan di dalam ruangan teduh berlantai marmer mengkilap, bukan lagi bebatuan curam. Tak ada lagi terik mentari, melainkan kesejukan udara yang terpancar dari AC sepanjang jalur Mas’a. Tak ada lagi panas atau gerah, apalagi cucuran keringat sebagaimana dirasakan Ibunda Hajar dulu.

Makkah kini, bukan lagi lembah tandus kering kerontang, sebagaimana zaman Nabi Ibrahim dulu “wadin min ghairi dzi zar’in” lembah gersang tanpa pepohonan.

Makkah saat ini telah menjadi kota metropolitan. Kota modern berisikan gedung-gedung pencakar langit, laksana London di Inggris atau Las Vegas di Amerika sana. Demikian sejumlah orang mengibaratkan.

Begitu Anda keluar Masjid melalui pintu King Abdul Aziz, Anda akan berhadapan dengan sebuah super gedung bernama Abraj al Bait alias Zamzam Tower. Gedung megah yang tingginya melebihi 600 meter. Di puncak ketinggiannya, terdapat empat muka jam dengan diameter masing-masing 46 meter. Jarum panjangnya seukuran 22 meter.

Abraj al Bait terdiri dari pusat perbelanjaan, hotel dan tempat tinggal. Toko-tokonya menjual produk merk-merk terkenal. Hanya cocok untuk tamu berdompet tebal. Bagaimana dengan hotelnya? Konon di situ ada kamar dengan tarif mencapai 7 juta rupiah per malam.

Dalam gambaran yang disampaikan Gunawan Muhammad, dari Abraj al Bait, orang-orang dengan duit berlimpah itu bisa memandang ke bawah, mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Ka’bah, bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.

Abraj al Bait hanyalah satu di antara ikon kemewahan dan gemerlapnya kota suci Mekah al Mukarromah. Sejumlah gedung besar nan mewah lain berdiri mengelilingi Ka’bah, kiblat suci umat Islam ini.

Dengan dalih menjamin kenyamanan jemaah, pemerintah Saudi serius menggarap perluasan Masjid. Sejak 2011, tak kurang dari 690 Juta Poundsterling – hitung sendiri ya rupiahnya – digelontorkan untuk ekspansi dan transformasi kawasan al Masjid al Haram. Harga yang sungguh wow. Selain ongkos ideologi yang tak kalah mahalnya : dihancurkannya sejumlah situs bersejarah. Apa saja itu?

Di antaranya : bekas rumah Abu Bakar digusur menjadi hotel Hilton. Jabal Gubesy kini menjadi istana raja. Bekas rumah Khadijah kini menjadi kawasan toilet. Bahkan rumah lokasi kelahiran Nabi yang sementara ini menjadi perpustakaan pun kabarnya akan dibongkar.

Secara kebetulan, madzhab Wahabi yang dianut pemerintah Saudi, memang mengharamkan pemeliharaan situs-situs sejarah. Dalihnya adalah purifikasi tauhid. Khawatir jika situs-situs itu dipuja secara berlebihan oleh para jemaah haji, terutama jemaah Indonesia.

Saya memahami kebijakan yang diambil pemerintah Saudi. Tapi di sisi lain, saya termasuk pihak yang khawatir jika kemewahan dan kemodernan kawasan al Masjid al Haram ini justru akan menenggelamkan nilai-nilai spiritual haji, yang sebenarnya merupakan inti (maqasid) ibadah haji itu sendiri. Apa artinya perjalanan ziarah tanpa napak tilas sejarahnya?

Jemaah haji yang tidak cukup bekal ilmu dan taqwanya, bisa-bisa tidak akan mendapat apa-apa dari hajinya. Nilai-nilai spiritualitas yang dikandung oleh ritual haji tidak membekas dalam dirinya. Istilah kekiniannya, gagal faham. Karena ia keburu silau dengan gemerlap dan kemewahan Mekah yang kini rasanya seperti Las Vegas.

Karena itu, bagi Anda yang berencana hendak beribadah ke Mekah, siapkanlah bekal sejak sekarang. “Berbekallah kalian (sebelum berhaji). Dan sebaik-baik bekal adalah ketaqwaan”. Al Baqarah 197. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Wallahu A’lam bis Shawab.

Makkah al Mukarromah, 06 Dzulhijjah 1440 H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here