Makan Berlebihan Menurut Islam

157

Muslim Obsession – Keseimbangan dalam pola makanan merupakan suatu fitrah yang baik. Sebaliknya, memperbanyak makan adalah akibat bujukan setan yang bisa menyebabkan dyspepsia (gangguan pencernaan).

Tidak hanya itu, terlalu banyak makan bisa menyebabkan kondisi lemah, malas, dan timbulnya berbagai macam penyakit kronis, sehingga menghambat seseorang untuk bekerja dan ibadah.

Akhirnya, kehidupan menjadi tidak produktif. Begitu juga dengan sedikit makan dan terlalu hemat terhadap makanan (dikecualikan dalam kondisi sangat miskin), bisa mengakibatkan tubuh menjadi lemah dan kurus, sehingga menghalangi seseoarang melaksanakan segala kewajibannya, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Allah Swt. berfirman, “Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’raf [7]: (31).

Ibnu Umar meriwayatkan Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang ditimpa kepayahan dalam bulan Ramadhan (lantaran tidak kuat berpuasa), namun dia tidak mau berbuka, sehingga dia mati, maka dia masuk neraka.”

Dalam kitab Shahihul Bukhari dan Muslim, ada salah seorang sahabat Nabi berkata, “Aku berpuasa dan tidak pernah berbuka.” Yang lainnya berkata, “Sedangkan aku selalu terjaga dan tidak pernah tidur.”

Sedangkan aku tidak pernah mendekati wanita (menikah).” Kemudian sahabat lainnya lagi berkata, “Sedangkan aku tidak pernah memakan daging.”

Diriwayatkan Bukhari, mendengar semua itu, Nabi berkomentar, “Apa maksud laki-laki yang mengatakan begini dan begitu (pernyataan para sahabat tersebut di atas). Sesungguhnya aku berpuasa dan juga berbuka. Aku terjaga dan aku juga tidur. Aku juga menikahi wanita dan memakai daging. (Karena itu), siapa saja yang membenci sunnahku, berarti dia bukan termasuk umatku.” (Vina)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here