Mahasiswa UIN Jakarta Harus Miliki Pengetahuan Umum Berbasis Keislaman

131
Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily, MA. (Foto: TV OMG)

Tangsel, Muslim Obsession – Sejak bertransformasi dari IAIN menjadi universitas, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta hadir sebagai kampus berbasis Islam yang mengajarkan pengetahuan keislaman yang terintegrasi dengan ilmu pengetahun lainnya, sehingga keduanya jalan beriringan.

UIN Syahid Jakarta tidak hanya menyediakan pendidikan terkait agama, tetapi juga ilmu umum seperti kedokteran, sosial, politik, science dan teknologi, psikologi, serta cabang-cabang ilmu yang lain.

“Oleh karenanya setiap mahasiswa UIN Syahid Jakarta dituntut memiliki wawasan keagamaan dan umum yang luas dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman,” tutur Ketua Umum Ikatan Alumni UIN (IKALUIN) Jakarta, Dr. Tubagus Ace Hasan Syadzily, MA kepada Muslim Obsession belum lama ini.

BACA JUGA: Strategi Prof. Amany Lubis Wujudkan Internasionalisasi Kampus dan Jaga Islam Pluralistik

Ia menilai, luasnya pemahaman keilmuan yang diajarkan UIN Syahid Jakarta, sesungguhnya menunjukkan bahwa Islam sebagai sebuah ajaran seharusnya memiliki kesesuaian atau compatibility dengan ilmu pengetahuan.

Karena di manapun, tutur lelaki kelahiran Pandeglang 19 September 1976 ini, sebuah peradaban besar berpijak pada ilmu pengetahuan. Melalui upaya ini UIN Syahid Jakarta telah memiliki lulusan-lulusan yang mempengaruhi perkembangan keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.

“Semangat yang dibangun memang berbasis pengetahuan keagamaan. Tetapi itu menjadi basis bagi lahirnya pengetahuan teknologi dan inovasi-inovasi yang dibutuhkan kehidupan manusia,” ujar Kang Ace.

BACA JUGA: Tb. Ace Hasan Syadzily Raih Obsession Awards 2020 untuk Kategori Best Parliamentarians

Politisi muda Partai Golkar yang kini menjabat Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini mencontohkan, UIN Syahid Jakarta antara lain mempengaruhi landskap pemikiran Agama dan Negara, dimana para tokoh Ciputat seperti Prof. Harun Nasution, Prof. Nurcholis Madjid, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Komaruddin Hidayat, Dr. Fachry Ali, dan Dr. Saiful Mujani serta tokoh-tokoh Ciputat lainnya memberikan warna pemikiran yang saat ini banyak dianut para elit dan masyarakat di Tanah Air.

Menurutnya, tokoh-tokoh ini mendudukkan agama sumber nilai yang mempengaruhi kebijakan negara, bagaimana Islam yang menjadi salah satu agama yang di Indonesia mempengaruhi kebijakan negara.

Salah satu hasilnya adalah pemikiran keterkaitan Islam dan Pancasila tak perlu lagi dipertentangkan. Ia menilai bahwa Pancasila sebagai dasar negara ini sudah final, karena yang terpenting adalah etika-etika dalam agama bisa dijalankan dalam kehidupan kemasyarakatan, berbangsa, dan bernegara tanpa harus menyebutkan formalisme keagamaan.

“Pemikiran tersebut merupakan salah satu karakter yang menjadi corak Madzhab Ciputat sekaligus mencerminkan moderasi beragama yang saat ini menjadi primadona pembahasan di tengah masyarakat. Dengan pandangan moderasi beragama ini masyarakat memiliki pemahaman keagamaan yang moderat, tidak ekstrem kiri maupun ekstrem kanan, tetapi memilih jalan kemaslahatan seperti halnya watak Islam itu sendiri,” tandasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here