Macron Klarifikasi Pernyataan ‘Islam dalam Krisis’ dan Karikatur Nabi

223
Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: reuter)

Paris, Muslim Obsession – Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara panjang lebar dengan penyiar Arab untuk membela komentarnya tentang Islam.

Dia mengerti mengapa orang tersinggung, tapi dia tidak membenarkan kekerasan. Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta ketenangan dari dunia Muslim dalam komentarnya kepada penyiar Arab Al Jazeera.

Macron mengatakan kepada penyiar negara Qatar bahwa dia mengerti mengapa umat Islam kecewa dengan kartun Nabi Muhammad, tetapi ini tidak membenarkan adanya kekerasan.

“Saya bisa mengerti bahwa orang bisa dikejutkan oleh karikatur, tapi saya tidak akan pernah menerima bahwa kekerasan bisa dibenarkan,” katanya dalam wawancara panjang, dikutip DW, Senin (2/11/2020).

Awal bulan ini, Macron membela sekularisme dan kebebasan berekspresi di Prancis, dan mengatakan Islam sedang mengalami krisis, setelah seorang guru sekolah menengah Prancis dipenggal kepalanya karena memajang komik Nabi Muhammad di kelas. Komentarnya memicu gelombang protes dan kritik dari dunia Muslim.

“Saya memahami perasaan yang timbul, saya menghormati mereka. Tetapi saya ingin Anda memahami peran yang saya miliki. Peran saya adalah menenangkan segalanya, seperti yang saya lakukan di sini, tetapi pada saat yang sama adalah melindungi hak-hak ini,” kata Macron.

“Saya akan selalu membela di negara saya kebebasan untuk berbicara, menulis, berpikir, menggambar. Namun itu tidak berarti bahwa saya secara pribadi mendukung semua yang kita katakan, pikirkan, gambar, tetapi … saya menganggap bahwa ini adalah panggilan kita untuk melindungi (kebebasan dan hak asasi manusia ini) dan juga untuk melindungi kedaulatan rakyat Prancis,” bebernya.

Macron memposting wawancara lengkap berbahasa Prancis itu di channel YouTube-nya. Prancis berada di ujung tanduk sejak serangan pada bulan September di luar bekas kantor majalah satir Charlie Hebdo, yang menerbitkan ulang kartun nabi dalam edisi baru-baru ini.

Macron menekankan dalam wawancara bahwa kartun itu bukanlah karya negara Prancis. Dia mengatakan para pemimpin politik telah mendistorsi kebenaran, membuat orang percaya bahwa pemerintah Prancis bertanggung jawab atas karikatur itu.

“Karikatur itu bukan proyek pemerintah, tapi muncul dari surat kabar bebas dan independen yang tidak berafiliasi dengan pemerintah,” tambahnya.

Islam dalam Krisis

Macron mengatakan kepada Al Jazeera bahwa komentarnya bahwa Islam sedang menghadapi krisis mengacu pada elemen ekstremis yang juga mengancam Muslim.

“Apa yang ingin saya katakan sangat jelas, bahwa saat ini ada orang di dunia yang memutarbalikkan Islam dan membunuh atas nama agama yang mereka klaim untuk dipertahankan. Mereka membantai,” tuturnya.

“Hari ini ada kekerasan yang dilakukan oleh beberapa gerakan ekstremis dan individu atas nama Islam. Tentu ini menjadi masalah bagi Islam, karena Muslim adalah korban pertama. Lebih dari 80% korban terorisme adalah Muslim. Dan ini menjadi masalah kita semua,”  pungkasnya.

Dia membela sekularisme Prancis, tetapi mengatakan konsep itu sering disalahpahami. Dia mengatakan orang-orang sepenuhnya bebas untuk menjalankan agama mereka, dan tidak peduli keyakinan mereka, mereka diperlakukan sama di Prancis.

Macron juga mengatakan para pemimpin agama dan politik yang gagal mengutuk kekerasan itu ikut bertanggung jawab mendorong serangan itu, dan menyerukan dukungan untuk mengutuk serangan di Prancis.

Dia mengatakan seruan untuk memboikot barang-barang Prancis dari para pemimpin seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan “tidak layak” dan “tidak dapat diterima.”

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here