M Natsir, KH Muslich, dan SM Kartosuwirjo

245

Kartosuwirjo Melunak

DENGAN demikian, tugas yang diemban Kiai Muslich adalah ikhtiar ketiga untuk menyelesaikan persoalan DI tanpa pertumpahan darah.

Tugas itu dilaksanakan oleh Kiai Muslich dengan baik. Sama seperti Ustadz Hasan, Kiai Muslich  berhasil menemui Kartosuwirjo di tempat persembunyiaannya. Suasana pertemuan, bahkan berlangsung lebih baik.

Sebagai dua sahabat yang lama tidak bertemu, keduanya melepas rindu dengan saling berpelukan, saling bertanya kabar, dan saling bernostalgia.

Sesudah itu, Kiai Muslich menyampaikan missinya bahwa Pemerintah Republik ingin agar Kartosuwirjo kembali ke pangkuan Indonesia. Kartosuwirjo diharapkan bersedia berunding, dan menghentikan perlawanan bersenjata kepada Pemerintah RI.

Kiai Muslich menangkap kesan, sikap Kartosuwirjo melunak. Kartosuwirjo mengatakan, akan mempertimbangkan Amanat Pemerintah RI yang disampaikan oleh Kiai Muslich.

Bagi Kiai Muslich, sikap Kartosuwirjo seperti itu, merupakan sinyal positif.

Sesudah pembicaraan selesai, Kartosuwirjo memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengawal Kiai Muslich sampai ke tempat yang benar-benar aman.

Ketika rombongan sedang menuruni lereng, tiba-tiba terdengar serentetan tembakan. Rupanya ada sepasukan tentara yang sedang memburu Kartosuwirjo. Melihat ada rombongan keluar dari hutan, dan sebagian bersenjata, tanpa bertanya lebih dahulu, pasukan itu langsung memberondong rombongan Kiai Muslicg dengan tembakan.

Dalam insiden ini, Kiai Muslich selamat, tapi orang kepercayaan Kartosuwirjo gugur.

Kiai Muslich sangat menyesali peristiwa itu. Misinya yang sudah menunjukkan sinyal positif, meredup. Sejak saat itu, Kartosuwirjo tidak mau berunding lagi dengan siapa pun.

Sesudah Perdana Menteri Natsir mengundurkan diri, dan digantikan oleh Soekiman Wirjosandjojo, Kartosuwirjo mengumumkan: “Sejak saat ini tidak ada lagi hubungan dengan Pemerintah RI.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here