M. Natsir di Antara Moral dan Politik

232
Mohammad Natsir (Foto: Istimewa)

Oleh: Taufik Abdullah*

JIKA sejarah boleh direnungkan, terasalah betapa kekalahan paling dramatis, bukanlah yang terjadi pada diri Mohammad Natsir dan kawan-kawannya.

Kekalahan paling tragis terjadi ketika “Bapak Bangsa dan Pemimpin Besar Revolusi” yang sejak muda telah berjuang bagi kemerdekaan bangsa, menemukan dirinya ditolak oleh bangsa yang dicintainya.

Kekalahan yang tidak kurang tragisnya ialah ketika “Bapak Pembangunan” yang telah “mengubah peta Indonesia” harus menerima kenyataan bahwa kehadirannya tak diinginkan lagi dan perilakunya dijadikan sebagai contoh dari perbuatan yang tidak pantas.

Bagaimana Natsir? Seperti apakah penilaian yang harus diberikan kepada seseorang yang menentang pelanggaran konstitusi tetapi ternyata kalah dalam pertarungan politik?

Masa honeymoon dalam kehidupan politik ternyata hanya terjadi ketika keharusan konstitusi relatif masih diikuti oleh pemegang kekuasaan. Seketika hal itu telah dilanggar, Natsir, sang moralis, ternyata tidak punya pilihan lain.

Sebagai pemikir, Mohammad Natsir memperlihatkan kejernihan dan ketajaman berfikir yang mempesona. Dengan bahasa yang teratur dan tersusun baik, pilihan kata yang tertib, sistematika berfikir yang rapi; siapapun akan mengakui juga bahwa ia adalah seorang pemikir yang cemerlang, betapapun mungkin perbedaan pandangan tidak selamanya bisa terelakkan.

Sebagai politikus dan pejuang politik, karirnya menunjukkan betapa tidak mudahnya ia terbebas dari dilema antara keharusan politik dengan tuntutan moral. Seketika ia memilih keharusan moral –memang ia tidak pernah bisa mempunyai pilihan lain– maka kemungkinan kekalahan dalam pertarungan politik pun telah menghadang.

Maka bisakah dielakkan sebuah pertanyaan yang menyesakkan dada?

Apakah perwujudan moralitas dalam pilihan politik adalah sesuatu yang sebaiknya dilupakan saja, ataukah sesuatu yang semestinya dihargai sebagai contoh dari perbuatan yang bisa memenuhi “kepuasan kultural bangsa”. Dan “pahlawan” secara teoritis adalah ia yang telah memberikan contoh perilaku yang sejalan dengan idealisme kultural yang dianut bangsa.

Pahlawan adalah ia –sebagaimana juga dikatakan oleh seorang pemikir– yang telah memberikan kepuasan kultur bagi bangsanya. []

 

*Sumber: “Natsir dalam Lintasan Sejarah Bangsa” dalam 100 Tahun Mohammad Natsir Berdamai dengan Sejarah, 2008.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here