Litbang Kemenag Katalogisasi Ratusan Naskah Kuno Keraton Cirebon

59
Naskah Kuno Cirebon
Naskah kuna Cirebon. (Foto: abdulrosyidi)

Cirebon, Muslim Obsession – Kepala Badan Litbang Kemenag RI, Abdurrahman Mas’ud, secara resmi meluncurkan katalogisasi naskah keagamaan Cirebon di Kota Cirebon, Selasa  (8/5/2018). Katalogisasi dilakukan agar naskah keagamaan Cirebon jadi lebih mudah diakses oleh peneliti, mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum.

Abdurrahman menuturkan, sebagai pusat peradaban Islam di Nusantara, Cirebon memiliki tradisi keislaman yang kuat. Para leluhur Cirebon sudah mewariskannya secara tertulis dalam bentuk naskah kuno.

Namun sayang, selama ini tak ada katalog yang menghimpun keberadaan naskah kuno yang memang tersebar di berbagai lokasi. Akibatnya, kekayaan warisan leluhur Cirebon yang tak ternilai harganya itu menjadi sulit untuk diketahui secara utuh.

“Cirebon dan berbagai daerah lainnya di Nusantara memiliki kekayaan naskah manuskrip yang luar biasa. Namun, banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya. Selain membantu mempermudah akses terhadap naskah kuno, katalogisasi ini juga sekaligus menjadi upaya pelestarian kearifan lokal dan kekayaan budaya Tanah Air,” ujarnya.

Abdurrahman mengakui, Badan Litbang Kemenag RI dalam beberapa tahun terakhir gencar memburu naskah-naskah kuno Indonesia. Tak hanya di berbagai daerah, namun perburuan juga dilakukan hingga ke sejumlah negara, seperti Afrika Selatan, Mesir, Turki dan negara-negara tetangga.

Menurut Ketua Tim Workshop Katalogisasi Naskah Keagamaan Cirebon, Muhammad Tarobin, sebelum melakukan katalogisasi, pihaknya terlebih dulu melakukan digitalisasi naskah keagamaan Cirebon pada 2016.

Dari total 309 naskah kuno yang didigitalasi itu, yang dilakukan katalogisasi saat ini ada 108 naskah kuno. Sementara sisanya, kata dia, akan dilakukan pada tahun-tahun mendatang.

“Naskah keagamaan Cirebon yang dilakukan katalogisasi itu sebagian besar merupakan peninggalan tradisi keraton Cirebon yang dimiliki lima kolektor, yakni Keraton Kanoman, Keraton Keprabonan, Elang Muhammad Hilman, Raden Ahmad Opan Safari Hasyim, dan Dokter Bambang dari Arjawinangun. Naskah itu sebagian besar beraksara Pegon, dan berbahasa Jawa Cirebon,” tutur Tarobin yang juga menjabat sebagai Koordinator Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan Balai Litbang Agama Jakarta.

Setelah katalogisasi, tahap selanjutnya adalah transliterasi agar isi nasakah dapat dipahami. Transliterasi tidak mesti dilakukan oleh tim katalogisasi, melainkan bisa juga dilakukan oleh siapapun yang ingin mengkaji naskah tersebut.

Kendati diakui Tarobin ada beberapa lembaga sudah melajukan digitalisasi terhadap naskah-naskah kuno Cirebon, namun hingga saat ini belum ada yang melakukan katalogisasi. Untuk sementara, katalogisasi naskah keagamaan Cirebon dibuat dalam bentuk buku. Ke depan, akan dilakukan secara digital untuk lebih mempermudah aksesnya.

Sementara itu Ratu Raja Arimbi Nurtina dari Keraton Kanoman Cirebon menjelaskan, Keraton Kanoman masih menyimpan sekitar 500 naskah kuno. Dari jumlah itu, yang sudah didata dan digitalisasi oleh Kemenag RI ada sekitar 15 naskah.

Menurutnya, selama ini naskah kuno milik Keraton Kanoman masih disimpan secara tradisional dalam suhu ruangan. Pihaknya menggunakan rempah-rempah tradisional seperti cengkeh dan kapulaga yang bisa mengawetkan kertas dan melindunginya dari kutu-kutu kertas.

“Selain pendataan ulang, ke depan kami juga berencana melakukan digitalisasi dan transliterasi karena keraton jadi tujuan peneliti mulai dari siswa SD hingga perguruan tinggi,” urai Arimbi. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here