Lima Sifat Orang Beriman

168

Oleh: Buya Mas’oed Abidin (Ulama Sumatra Barat)

Allah menyifati orang-orang yang beriman (mukmin) dalam dua ayat Surah Al-Anfal di dalam kitab suci Al-Quranul Karim. Di dalamnya termaktub bahwa Allah menyebutkan ada lima sifat Mukmin Haqqan.

Pertama, orang yang beriman memiliki rasa takut kepada Allah di dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,” (QS. Al-Anfal: 2).

Rasa takut tersebut adalah ciri-ciri orang yang beriman. Hanya orang yang beriman jika disebutkan nama Allah, muncul rasa takut dalam hatinya. Rasa takutnya sebagai bentuk mengagungkan Allah.

Sebagai contoh, jika ada seseorang yang berkeinginan melakukan maksiat, kemudian ia teringat Allah atau ada yang mengingatkannya dengan mengatakan, “bertakwalah Anda kepada Allah”, lalu dia mengurungkan keinginan buruknya itu, maka dia adalah seorang mukmin.

Kedua, adanya tambahan iman ketika ayat Al-quran dibacakan. Di dalam ayat yang sama, Allah memberikan penjelasan lebih lanjut:

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا

“..dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya),” (QS. Al-Anfal: 2)

Hal ini menjadi bukti keimanan seseorang ketika Al-Quran dibaca, baik oleh dirinya ataupun orang lain, ia dapat mengambil manfaat dengan bertambahnya rasa iman.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al-Quran, lantas Ibnu Mas’ud bertanya, “Bagaimana aku membacakan Al-Quran, sedangkan Al-Quran diturunkan untukmu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Sungguh aku senang mendengar bacaan Al-Quran dari orang lain.”

Lalu, Ibnu Mas’ud pun membaca surah An-Nisa. Tatkala sampai pada ayat ke-41,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍۭ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدًا

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu),”

Maka Nabi mengatakan, “Cukup”. Aku pun memandangi Nabi dan melihat mata beliau berlinangan air mata. (HR. Bukhari)

Potongan ayat ke-2 Surah Al-Anfal di atas menjadi dalil bahwa rasa iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Karena akidah Ahlusunnah adalah iman itu bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan maksiat.

Dicontohkan dalam ayat di atas adalah melakukan ketaatan dengan mendengarkan bacaan Al-Quran.

Adapun kelompok Murji’ah yang memiliki penyimpangan dalam akidah mengatakan bahwa rasa iman tidak dapat bertambah maupun berkurang, dan ini adalah akidah yang keliru.

Kisah Ibnu Mas’ud di atas juga menunjukkan betapa lembutnya hati Nabi, tatkala beliau dibacakan Al-Quran, hati beliau terenyuh sehingga berlinanglah air mata beliau.

Ketiga, tawakkal hanya kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“dan hanya kepada Rabbnya mereka bertawakkal,” (QS. Al-Anfal: 2).

Orang yang beriman akan menyandarkan segala urusannya hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Mereka tetap bertawakkal kepada Allah karena mereka yakin bahwa tidak akan terwujud suatu hal kecuali atas kehendak Allah.

Keempat, mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat,” (QS. Al-Anfal: 3).

Banyak ayat yang menunjukkan shalat adalah bukti keimanan seseorang, salah satunya terdapat dalam ayat ini. Orang yang beriman akan mendirikan shalat secara sempurna, baik shalat yang hukumnya wajib maupun yang dianjurkan.

Kelima, senang berinfak dan suka bersedekah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

“dan yang menginfakkan rizki yang Kami berikan kepada mereka,” (QS. Al-Anfal: 3).

Seorang dikatakan beriman ketika ia menginfakkan hartanya di jalan Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah.

Namun ada catatan penting, ketika ada yang memiliki kebutuhan mendesak, baik dari keluarga maupun orang lain, maka tidak sepatutnya menginfakkan seluruh hartanya.

Demikian LIMA SIFAT MUKMIN yang Allah sebut dalam surah Al-Anfal ayat ke-2 dan ke-3. Kemudian di awal ayat ke-4, Allah sebut mereka itulah orang yang memiliki iman dengan sebenar benarnya iman.

Allah berfirman:

أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya,” (QS. Al-Anfal: 4).

Semoga kita tergolong orang yang memiliki sifat-sifat di atas sehingga predikat orang yang beriman dapat kita raih.

Wa billait Tauwfiq wal Hidayah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here