Lifetime Achievment KH Ma’ruf Amin (Ketua Majelis Ulama Indonesia)

258
Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin mendapatkan penghargaan Lifetime Achievment (Foto: Sutanto)

Naskah: Imam F., Foto: Istimewa

Posisi KH. Ma’ruf Amin sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), tak ubahnya penjaga umat Islam di tanah air. Bahkan lebih dari itu, lelaki yang akrab disapa Kiai Ma’ruf ini, merupakan sosok penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beliaulah yang tampil sebagai sosok pemersatu umat Islam ketika dihadapkan pada situasi terkotak-kotak.

Seperti sebuah mata uang, umat Islam dan NKRI adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas negeri ini (85 persen dari total penduduk Indonesia), secara otomatis menjadi komunitas terbesar yang bertanggung jawab atas keutuhan NKRI. Oleh karenanya, menjaga persatuan umat Islam menjadi kunci terpeliharanya kesatuan NKRI. Ketika umat Islam dihadapkan pada situasi terkotak-kotak, misalnya, Kiai Ma’ruf harus tampil sebagai sosok yang menyatukan. Dalam konteks ini, sabda Rasulullah Saw. bahwa mukmin yang satu dengan yang lainnya adalah saudara, mesti benar-benar dikawalnya agar tercipta Ukhuwah Islamiyah.

Kendati demikian, Kiai Ma’ruf juga tegas melempar kritik kepada suatu kelompok yang menamakan dirinya sebagai Muslim, tetapi berulah tak sepantasnya laiknya seorang Muslim lakukan. Seperti kritik yang ia layangkan kepada kelompok Muslim Cyber Army (MCA). Kelompok yang dinilainya membuat rusak Islam karena menebar berita-berita tak benar (hoaks), sehingga mengancam keutuhan NKRI. “Jangan juga menggunakan nama Muslim dan yang penting jangan melakukan hoaks itu, supaya negara ini aman. Negara ini harus kita jaga, kawal, supaya keutuhan bangsa tetap terjaga,” kata Kiai Ma’ruf dalam sebuah wawancara di komplek Istana Kepresidenan Jakarta, akhir Februari 2018.

Nama KH. Ma’ruf Amin sempat ramai menghiasi pemberitaan media massa di tahun 2017. Utamanya saat dirinya menjadi salah seorang saksi dalam kasus penistaan agama yang dilakukan oleh eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Kapasitas Kiai Ma’ruf sebagai Ketua Umum MUI menjadikannya saksi dalam kasus tersebut. Pada kesempatan itu, oleh Ahok, Kiai Ma’ruf sempat dituding memberikan keterangan yang tidak semestinya. Meski langsung dianulir dan meminta maaf, namun pernyataan Ahok kadung memantik kecaman masif dan protes umat Islam. Figur Kiai Ma’ruf yang merupakan seorang pimpinan para ulama di tanah air dipandang umat Islam sebagai sosok yang tak semestinya diperlakukan rendah.

Bagi umat Islam tanah air, nama Kiai Ma’ruf sudah sangat akrab. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Banten, ini dikenal sosok kyai yang moderat, pemikir, ramah, dan sejuk. Kendati demikian, ia juga tegas dalam memegang prinsip, terlebih yang terkait dengan syariat Islam. Jauh sebelum menjadi pimpinan tertinggi di MUI, lelaki kelahiran Tangerang pada 11 Maret 1943 itu dikenal sebagai ulama ahli fiqh yang disegani. Karena keilmuannya itu, Kiai Ma’ruf pernah didaulat menjadi Ketua Komisi Fatwa (2000-2005) yang bertanggung jawab pada penerbitan fatwa MUI. Sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI, ia kerap tampil untuk merespon beragam persoalan yang sedang dihadapi umat.

Selain menjadi Ketua Umum MUI untuk periode 2015-2020, saat ini Kiai Ma’ruf juga menduduki jabatan tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU). Di Ormas Islam terbesar di tanah air ini, eks anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2007-2014) tersebut juga menjabat Rais ‘Am atau Ketua Umum dalam arti sebenarnya untuk periode 2015-2020. Jabatan ini membuat mantan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menjadi ulama yang paling dihormati di kalangan Nahdliyin. Tahun ini, tepatnya pada Rabu, 24 Mei 2017, Kiai Ma’ruf dianugerahi gelar Guru Besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang di bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah. Prosesi penganugerahan gelar guru besar ini sangat istimewa karena turut dihadiri Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri. Orang nomor satu di Indonesia ini secara khusus hadir sebagai undangan dalam acara pengukuhan.

Kehadiran Presiden Jokowi seolah menegaskan keberpihakan Kiai Ma’ruf pada komitmen pemerintah untuk ‘menjaga’ Pancasila. Pada sejumlah kesempatan, mantan Ketua Dewan Syari’ah Nasional (DSN) ini memang berulang kali menegaskan bahwa pembahasan Islam dan negara di tanah air telah usai. Baginya, Pancasila adalah solusi kebangsaan atau hulul wathaniyah yang menjadi titik kesepakatan dan kompromi dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan, roh agama menjadi kekuatan besar yang mengilhami kelahiran Pancasila itu. “Pancasila justru wujud nyata peran agama dalam kehidupan bangsa Indonesia,” kata Kiai Ma’ruf, seperti dikutip banyak media untuk menjawab kelompok anti-Pancasila. Penghormatan umat Islam terhadap penerima penghargaan di Global Islamic Finance Award (GIFA) Lifetime Achievement Award 2016 ini tak melulu karena keilmuan dan jabatannya di MUI maupun NU. Nyatanya, lelaki yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng ini juga dihormati sebagai cicit dari Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani, ulama besar asal Banten yang keilmuannya diakui para ulama dan umat Islam di dunia internasional.

Syaikh Nawawi Al-Bantani diketahui pernah menjadi Imam Masjidil Haram. Beliau juga dijuluki “Imam Nawawi Atstsani” merujuk kepada ahli hadits Imam Nawawi. Oleh para ulama Indonesia, Syaikh Nawawi Al-Bantani yang hidup tahun 1730 hingga 1813 ini dijuluki sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia. Ratusan kitab yang pernah ditulisnya semasa hidup menjadi rujukan para ulama dunia dan para santri di tanah air. Seperti leluhurnya, Kiai Ma’ruf yang juga merupakan Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, itu pun memiliki banyak karya. Salah satu yang menjadi rujukan adalah buku bertajuk “Fatwa dalam Sistem Hukum Islam”. Buku ini dianggap sebagai landasan teori dan alat untuk membaca lebih lengkap fatwa-fatwa yang dihasilkan MUI.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here