Lelaki Tua ‘One Man Show’

63

Muslim Obsession – Entah siapa namanya. Sosok tua di Mushalla Al-Ichsan Kelengan-Kecil Kelurahan Kembangsari Semarang itu benar-benar mengalihkan ‘duniaku’.

Mushalla sederhana itu terletak sekitar 200 meter dari MG Suite, hotel tempat saya menginap. Tak terlalu jauh, tapi jalanan yang dilewati berkelok. Dua ibu etnis China tampak mengobrol asyik di pinggir jalan, tak jauh dari mushalla.

Sebenarnya, petang itu, adzan Maghrib yang keluar dari selongsong spiker mushalla hampir tak terdengar. Suara paraunya kalah cetar dibandingkan lengkingan adzan di masjid yang lebih besar. Entah dari arah mana suara itu.

Begitu masuk mushalla, seorang lelaki tua masih belum berhenti melantunkan adzan. Rupanya, suara parau yang terdengar lamat-lamat di bibir gang berasal dari lelaki tua ini.

Setelah adzan, lelaki tua, saya, dan beberapa jamaah melakukan shalat Sunnah. Sementara di sebuah pojok mushalla, dua anak berebut mikrofon untuk mendendangkan ‘puji-pujian’.

Ada jeda sekitar 5 menit sebelum iqamat dilantunkan. Sepanjang itu, ‘puji-pujian’ terus berkumandang.

***

Ketika waktu jeda dirasa usai, lelaki tua itu kembali berdiri. Ia ambil mikrofon dari anak-anak lalu iqamat.

Selesai iqamat, ternyata, tak ada satupun jamaah yang maju ke mihrab imam. Begitupun saya yang hanya seorang pendatang. Adab mengajarkan, seorang pendatang tak selayaknya menjadi imam.

Lalu, siapa yang maju menjadi imam? Lelaki tua itu kembali menjadi pemeran utama di panggung besar saat berhadapan dengan Allah, petang itu.

Dan rupanya, ia memang bukan sosok biasa.

Meski pelan, bacaan lelaki tua ini fasih. Bacaan surah Al-Fatihah maupun surah pendek dibacanya dengan tartil, makharijul huruf dan tajwid diucapkannya dengan tepat. Gerakan shalat dilakukan santai dengan thuma’ninah yang pas.

Ia bukan sosok biasa. Ia sosok yang memahami bagaimana menjadi imam yang benar.

***

Usai shalat, laiknya di mushalla dengan tradisi Nahdliyin, lelaki tua ini memimpin dzikir. Suaranya tak dikeraskan, mungkin hanya cukup terdengar oleh jamaah yang ada di shaf terdepan.

Lantunan istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil dibaca berurutan disambung Ayat Kursi dan surah Al-Fatihah sebelum doa.

Sayangnya, sepanjang ia memimpin dzikir, satu persatu jamaah meninggalkan mushalla.

Saya yang kadung terbuai dengan rasa damai di mushalla itu, tak kuasa beranjak. Ada dorongan kuat untuk tetap menemani sosok ‘one man show’ ini berdzikir. Selain itu, ada pula keinginan kuat untuk turut mengaminkan doa lelaki tua tersebut.

Bukankah kita tidak pernah tahu: min ayyi fammin tuqbal, dari mulut mana doa dikabulkan?

Masya Allah..

Usai berdoa. Kami berdua yang masih bertahan, saling bersalaman. Saya genggam erat tangannya sembari dalam hati berterima kasih karena telah melibatkan hati ini dalam damai.

Untuk sosok ‘one man show’, semoga Allah merahmatimu, memberikan keberkahan usia, dan bahagia hingga di akhirat kelak.

Aamiin Ya Allah..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here