Lagi Ramai Tentang Orang yang Tidak Menghormati Masjid

268

Oleh: Ustadz Syamsuri Halim (Pimpinan Majelis Dzikir Ibnu Halim)

Kebenaran tetap benar kesalahan tetap salah, janganlah kita mengambil dalil untuk membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar itu namanya Dholim baik bagi dirinya maupun bagi agamanya

Sedikit tentang kisah ulama ahlis sufah dengan seorang anjing.

Ulasan saya kali ini tidak ada sangkut paut dengan hukum cuma saya ingin menceritakan seorang ulama ahlus sufah yang diingatkan oleh seekor ANJING.

Najis Itu Adalah Dirimu

Siapa yang tidak kenal Abu Yazid Al-Busthami, beliau adalah seorang Syekh atau pemimpin kaum Sufi. Namun siapa sangka beliau pernah mendapat ilmu yang sangat berharga dari seekor anjing di tepi jalan.

Seperti biasa, Abu Yazid Al-Busthami suka berjalan sendiri di malam hari. Lalu dia melihat seekor anjing berjalan terus ke arahnya, anjing itu dengan bersahaja berjalan dan tidak menghiraukan sang Syeikh. Namun ketika sudah hampir dekat, Al-Busthami mengangkat jubahnya khawatir tersentuh sang anjing yang katanya najis itu.

Spontan anjing itu pun berhenti dan terus memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar seakan anjing itu berkata padanya;

“Hai syekh… tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis padamu. Kalau pun engkau itu merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7 lali dengan air dan tanah, maka najis itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat jubahmu karena menganggap dirimu yang berbaju dan berbadan manusia itu merasa lebih mulia, dan menganggap diriku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bisa bersih walaupun engkau membasuhnya dengan 7 samudera lautan”.

Abu Yazid tersentak dan minta maaf pada sang anjing. Sebagai tanda permohonan maafnya yang ikhlas, dia pun lantas mengajak sang anjing itu untuk bersahabat dan berjalan bersama. Tapi si anjing itu menolaknya. Dan seraya berkata :

“Engkau tidak patut berjalan denganku, kerana mereka yang memuliakanmu akan mencemohmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada sang Pencipta atas wujudku yg seperti ini. Lihatlah….. !! aku juga tidak menyimpan dan membawa sebuah tulangpun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum”, lalu anjing itu pun berjalan meninggalkan Abu Yazid yang masih terpinga-pinga.

Abu Yazid masih terdiam, dalam hatinya mengadu: “Duhai Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-MU saja aku tidak layak, bagaimana aku merasa layak berjalan bersama dengan-MU, ampunilah aku dan sucinya hatiku dari pada najis hatiku ini.”

Sejak peristiwa itu, Syeikh Abu Yazid pun sentiasa memuliakan dan mengasihi semua mahluk Tuhan tanpa syarat.

“Janganlah menganggap dirimu lebih suci daripada yang lain, sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang paling suci di antara hamba-hamba-Nya” (QS. An-Najm).

Wallahu A’lam.

BAGIKAN

1 KOMENTAR

  1. 1. Untuk kejadian yg akhir akhir tidak ada yg bisa memastikan bahwa anjing yg di bawa ke dalam masjid apakah dalam kondisi kering atau najis.
    2. Manusia yang membawa anjing kedalam masjid bukan manusia yg pantas tinggal dindonesia, karena masyarakat kita sangat menghargai pemeluk agama lain.
    3. Anjing yang di bawa kedalam masjid sama sekali tidak salah, karena pemiliknya yg salah
    4. Perlakuan Umat muslim sangatlah terpuji karena tidak melukai atau menendang anjing tersebut

    Alhamdulillah kami umat Islam Banggai terhadap umat muslim yg ada disana

    Karena perilaku membawa anjing ke masjid hanya dilakukan manusi yg tidak sehat alias gangguan jiwa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here