Kritik Lirik ‘Aisyah Istri Rasulullah’ Menurut Buya Yahya

15101
Buya Yahya.

Jakarta, Muslim Obsession – Dalam sebuah forum majelis, Buya Yahya mendapat pertanyaan dari salah satu jamaah soal lirik lagu Aisyah Istri Rasulullah yang saat ini tengah viral.

Dia (jamaah) mempertanyakan soal penyebutan Aisyah dalam lagu itu yang tanpa dibarengi sebutan Sayyidah sebagai bentuk penghormatan kepada ummul mukminin tersebut.

Di sisi lain, dalam lagu yang menceritakan keromantisan dan kesetiaan antara Nabi dan Aisyah itu, dijelaskan pula ciri-ciri fisik Aisyah. Jadi pertanyaannya, apakah hal itu pantas dan sopan?

“Dan bagaimana dengan anak-anak muda yang menyukai lagu tersebut hingga memperagakan seperti apa yang ada dalam lagu tersebut?” tanya jamaah tersebut.

Dalam hal ini, melalui video yang diunggah Al-Bahjah TV, Sabtu (4/4/2020) Buya menerangkan  terlebih dahulu bahwa manusia yang melakukan kesalahan itu terbagi dua. Ada yang melakukan kesalahan dengan kesombongan, maka orang seperti ini sudah tidak bisa kita nasehati.

Ada pula yang melakukan kesalahan tanpa kesombongan. Yang ini terbagi lagi menjadi dua bagian. Ada yang sengaja, ada yang tidak sengaja. Toh, kadang dalam shalat pun kita tetap bisa saja melakukan kesalahan.

Ada pun untuk yang melakukan kesalahan tanpa kesombongan baik yang disengaja atau pun tidak, mari kita doakan supaya mendapat hidayah dari Allah swt. Dan kita luruskan baik-baik. Karena yang kita hadapi itu manusia, bukan malaikat yang tak pernah salah.

Mengenai lagu Aisyah Istri Rasulullah, sebaiknya kita berhusnudzan bahwa siapa pun yang menciptakan lagu tersebut, dan yang ikut menyebarkannya adalah mereka yang bermaksud menyebarkan rasa cinta terhadap Sayyidah Aisyah r.a.. Jika memang begitu niatnya, semoga kembali sesuai dengan apa yang diniatkannya.

Dikutip dari potlot.id ada pun bilamana terdapat beberapa lirik yang tidak pantas disandingkan dengan Sayyidah Aisyah, mari kita perbaiki sama-sama tanpa menghujat.

Perlu kita ingat, bahwa istri-istri Rasulullah Saw. adalah ibunda kita, yang wajib kita cintai, hormati, dan jaga kemuliaannya. Jika ada bayangan tentang istri-istri Rasulullah, baiknya kita tepis dan ingatkan pada diri kita, bahwa mereka adalah ibunda kita.

Mengenai kata humaira, dalam bahasa arab humaira ditujukan untuk penyebutan warna kulit yang bukan hitam, bukan pula putih. Karena penyebutan kulit putih (abyad) dalam bahasa arab lebih terkesan putih belang. Jadi humaira adalah sebutan untuk orang yang berkulit bukan hitam, bukan pula putih.

Ada pun panggilan Nabi terhadap Sayyidah Aisyah dengan Humaira, memang benar adanya. Namun, cukup Nabi saja yang tahu makna sebenarnya tentang penyebutan humaira terhadap Sayyidah Aisyah. Tidak perlu kita menafsirkan begini dan begitu.

Lalu, Buya Yahya sendiri membacakan lirik lagu tersebut untuk kita benahi lirik yang tidak pantas ditujukan terhadap Sayyidah Aisyah.

Lirik pertama, mulia indah …. (Buya tidak menyebutkan kata tersebut.) berseri. Bisa kita ganti dengan apa, tidak usah memakai kata tersebut. Boleh dengan wajah berseri. Jadi, mulia indah wajah berseri.

Lalu, ketika di bagian lirik kedua, Buya tidak sanggup membacanya. Karena ke-wara’-an beliau, Buya bilang tidak bisa membaca hal yang seperti itu. Bisa kita ganti dengan cerdas, atau apa. Jangan memakai lirik yang itu.

Dan di bagian lirik “hingga Nabi minum di bekas ….” Bisa diganti dengan, ” hingga Nabi minum di bekas gelasmu.”

Dan, “bila dia marah Nabi kan bermanja mencuit ….” bisa diganti dengan, “bila dia marah, Nabi kan bermanja menghibur dirinya/hatinya.”

Begitulah kira-kira pendapat Ulama wara’ seperti Buya Yahya. Buya tidak menafikan bahwa lagu tersebut bagus dan bisa membuat kita lebih mencintai Sayyidah Aisyah, namun Buya juga setuju bahwa dalam lagu tersebut terdapat beberapa lirik yang tidak pantas disandingkan terhadap wanita mulia seperti Sayyidah Aisyah r.a.

Dan tentang anak-anak muda yang memperagakan Sayyidah Aisyah dalam video klip, seolah beliau begini dan begitu. Maka kita berhusnudzon bahwa maksud mereka baik, hanya saja mereka tidak tahu bahwa hal tersebut tidak pantas dilakukan.

Wallahu A’lam bish Shawab..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here