Kriteria Orang Miskin yang Lebih Dulu Masuk Surga Daripada Orang Kaya

219

Jakarta, Muslim Obsession – Miskin memang dekat dengan kekufuran, tapi bagi siapa saja yang mampu menjalani kemiskinan itu dengan ketaatan dan kesabaran, maka Allah SWT akan menjanjikan orang miskin itu masuk surga dengan segala kenikmatannya.

Rasulullah Saw dalam sejumlah riwayat dari beberapa sahabat pun mengatakan, bahwa orang-orang beriman yang fakir dan miskin kelak akan masuk surga terlebih dahulu dibandingkan orang-orang kayak karena setidaknya mereka bebas dari hisab harta.

Ibnu Majah meriwayatkan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa orang-orang miskin akan lebih dulu setengah hari masuk surga daripada orang-orang kaya. Hanya saja durasi setengah hari di akhirat terasa seperti 500 tahun di dunia.

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang-orang beriman yang fakir kelak akan masuk surga terlebih dahulu setengah hari yang setara 500 tahun lamanya daripada orang kaya.’” (HR Ibnu Majah).

Orang miskin berdasarkan Hadits Nabi memang dijamin masuk surga. Namun orang fakir dan orang miskin seperti apa yang akan masuk surga terlebih dahulu? Apakah semua orang fakir dan miskin asalkan beriman? Ternyata tidak semua.

Imam An-Nawawi menjelaskan, perihal kriteria orang miski yang masuk surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya.

هم المحتاجون الذين ليس لهم كفايتهم وليسوا مرتكبين كبيرة من المعاصي هذا ما ظهر لنا

Artinya, “Mereka yang berhajat pada sesuatu namun tidak dapat memenuhi keperluannya dan mereka tidak mengerjakan salah satu dosa besar dari sekian banyak maksiat. Ini (sifat orang miskin yang dimaksud) yang jelas pada kami,” (Imam An-Nawawi, Fatawal Imam An-Nawawi, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2018 M/1439 H], halaman 63).

Orang miskin yang dimaksud, berdasarkan penjelasan Imam An-Nawawi, adalah mereka yang tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun demikian, mereka juga bersabar dan tidak melakukan dosa besar atau maksiat-maksiat berat lainnya baik lahir maupun batin.

Jadi bukan asal fakir dan miskin, tetapi mereka yang tidak pesimis dan putus asa serta tidak menghalalkan segala cara untuk mengatasi keterbatasannya. Di samping itu, mereka adalah orang yang menjaga keimanan dan martabatnya. Wallahu a’lam.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here