Korban Islamophobia di Kanada Ternyata Hoax

456
Family of Toronto girl who claimed her hijab was cut apologizes

Kanada, Muslim Obsession – Khawlah Noman, gadis berusia 11 tahun yang diberitakan menjadi korban Islamophobia, ternyata tidak benar alias hoax.

Keluarganya dilaporkan telah meminta maaf atas “rasa sakit dan amarah” yang mereka sebabkan. Atas klaim gadis itu tentang seorang pria yang memotong jilbabnya ternyata tidak benar.

“Ini adalah pengalaman yang sangat menyakitkan bagi keluarga kami,” ujar mereka, dilansir The Canadian Press pada Kamis (18/1/2018).

“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah memberi kami dukungan pada masa sulit ini. Sekali lagi, kami sangat menyesal atas hal ini dan ingin menyampaikan permintaan maaf kami kepada setiap orang terutama di Kanada.”

Polisi Toronto mulai menyelidiki dugaan insiden tersebut sebagai kejahatan kebencian pada Jumat lalu, setelah gadis tersebut mengatakan bahwa dia diserang dua kali dalam perjalanan ke sekolah oleh seorang pria yang memotong jilbabnya dengan gunting.

Tuduhan tersebut menjadi berita utama internasional dan menarik kecaman publik dari Perdana Menteri, Walikota Ontario dan Walikota Toronto.

Pada hari Senin (15/1/2018), polisi mengumumkan bahwa penyelidikan mereka telah selesai dan dugaan kejadian tersebut tidak terjadi. Mereka juga mengatakan tidak ada biaya yang harus dikeluarkan.

Juru Bicara Mark Pugash mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa polisi tidak siap untuk membahas bagaimana situasi semakin meningkat.

“Sangat tidak biasa bagi seseorang untuk membuat tuduhan palsu semacam itu,” ujarnya.

Organisasi Muslim Kanada mengungkapkan keprihatinan yang sama. Dengan mengatakan mereka khawatir setelah insiden ini, orang lain yang mengalami kejahatan kebencian mungkin enggan melaporkannya, karena khawatir mereka tidak akan dipercaya.

Dalam pernyataan mereka pada Rabu (17/1/2018), keluarga gadis itu mengatakan ketika mereka mendengar ceritanya, mereka menganggapnya benar, sama seperti orang lain.

Mereka menambahkan, “Kami hanya go public karena kami khawatir bahwa ada pelaku yang mungkin bisa mencelakakan orang lain.” (Vina)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here