Kopi Sehat UBM: ‘Perang Istilah’ atau ‘Harbul Mushtalahat’

383

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP Parmusi, Direktur An-Nahl Institute Jakarta)

Rasúlulláh ﷺ bersabda:

 لَيَشْرَبُ أُنَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرِ يَسُمُّوْنَهَا بِغَيْرِ اِسْمِهَا

“Akan ada sekelompok orang dari umatku yang meminum khamr dan menyebut khamar dengan nama lain,” (HR. Ibnu Májah dan Ibnu Hibbán).

Secara etimologi kata ‘harb – حرب’ artinya perang atau pertempuran. Adapun secara terminologi adalah sebuah aksi fisik dan non fisik antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan.

Sedangkan ‘Ishthlah – اصطلح’ secara etimologi adalah bentuk humasi dari fiil ‘Shalaha- صلح’ yang berarti berbuat baik, kesepakatan, perdamaian. Adapun secara terminologi yaitu kesepakatan suatu kaum terhadap suatu ungkapan.

Dan. jika dua kata ini digabungkan maka artinya merupakan peperangan dengan suatu agenda besar yaitu ingin menimpakan bahaya dan kehancuran pemikiran atau ideologi umat Islam melalui istilah-istilah yang telah ditetapkan oleh syar’i.

Di era digital seperti saat ini, terminologi atau istilah adalah suatu alat yang menjadi sebab pertikaian bahkan peperangan diantara umat manusia, terkhusus umat Islam. Banyak istilah-istilah baru yang masuk kedalam ranah kehidupan kita yang terkadang membuat kita terkesima sehingga lupa esensi sebenarnya dari penghalusan istilah atau nama sesuatu. Lebih parahnya lagi, sampai kepada ‘aqídah dan pemikiran Islam, yang kemudian istilah-istilah ini dijadikan senjata baru bagi musuh Islam untuk menghancurkan kaum muslimín.

Paradigma perang di zaman ini telah berubah, perang bukan lagi seperti perang konvensional yang kemenangannya hanya diukur dengan mati atau musnahnya lawan, tapi diukur dari sejauh mana bergesernya cara berfikir musuhnya, dengan taktik dan siasat dari ide-ide serta pemikiran sesuai yang mereka kehendaki. Para ahli menyebut perang ini dengan istilah ‘Perang Generasi Ke Empat–Fourth Generation Warfare atau 4GW.

Jika kita perhatikan kembali dengan seksama, maka sesungguhnya fenomena seperti ini telah diprediksi oleh Rasúlulláh ﷺ empat belas abad yang lalu sebagaimana diungkapkan dalam hadits di atas.

Sampai di sini kita jadi faham kaan? Ada kata yang sengaja diperhalus dengan istilah keren—padahal esensinya jahat dan busuk. Lucunya ketika ada ulama yang mengingatkan tentang kebusukan itu, malah ulamanya yang dimusuhi.

Wal’iyaadzu billáh….

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here