Kopi Sehat UBM: Pandemi dan Resesi, Bukan Sekadar E-Money Tapi Butuh Peduli Imani

353

Oleh: Ustádz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi & Penyiraran Islam PP PARMUSI – Direktur An-Nahl Institute Jakarta)

“Menteri Keuangan Sri Mulyani menargetkan dapat memperoleh utang baru Rp342 triliun melalui lelang Surat Berharga Negara (SBN) hingga kuartal I 2021— Adapun total utang pemerintah menjelang tutup tahun ini nyaris tembus Rp 6.000 triliun, tepatnya Rp 5.910,64 triliun per akhir November. Utang ini naik Rp 32,93 triliun dari sebelumnya”. (Kutipan dari berita Kumparan)

Sebelumnya beberapa waktu lalu Menteri Keuangan, Sri Mulyani memastikan bahwa pada kuartal III 2020 ekonomi nasional akan resesi.

Begitu juga terlebih dahulu beberapa Negara sudah duluan mengumumkan resesi, makhluk kecil tak kasat mata yang bernama Covid, berhasil meluluhlantakan sesuatu yang begitu besar.

Hasbunalláh Wani’mal Wakïl Ni’mal Maulá Wani’man Nashïr…Là haula walá quwwata illá billáh…

Resesi adalah periode penurunan ekonomi sementara, di mana perdagangan dan aktivitas industri berkurang, umumnya ditandai dengan penurunan PDB dalam dua kuartal berturut-turut.

Atau istilah gampangnya roda ekonomi sedang istirahat. Yang itu artinya, aktivitas ekonomi akan berjalan lambat atau bahkan mungkin berhenti.

Resesi ini bersifat destruktif, karena biasanya daya beli menjadi lemah, pendapatan menurun, akibatnya PHK akan semakin bertambah, kemudian penggangguran akan semakin banyak.

Exhale…Inhale… Perbanyak istighfár, istirjà dan terus bertaubat saja… Alláhul Musta’àn…semoga Allàh عز وجل segera menolong kita.

Sahabatku, kondisi saat ini berada di luar kuasa kita, kita memang tidak mampu mengendalikannya. Itu adalah hal pertama yang perlu kita sadari, namun kita masih punya area yang kita kuasai.

Mari perbaiki mindset kita, jangan overthinking pada hal yang tidak bisa kita kendalikan. Setelah apa yang terjadi, kita tidak bisa mengharapkan pemerintah untuk peduli pada kita masing-masing. Apalagi jumlah Rakyat Indonesia ratusan juta!

Oke saat ini bisa jadi kita resesi, maka terimalah hal ini dengan hati yang ikhlas dan sabar.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

  1. Perbaiki mindset kita, bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Alláh. Tapi tetap ingat bahwa, apa yang diizinkan Alláh belum tentu diridloiNya.
  2. Apa yang terjadi saat ini, berada di luar kuasa kita, karenanya perbanyaklah istghfár, istirja’, hauqalah dan lebih mempan lagi taubat. Teristimewa para ‘petinggi dan pengurus’ rakyat.
  3. Jangan egois, tetap bantu sesama, orang-orang terdekat juga tetangga dan orang di sekitar kita.
  4. Tetap belanja keperluan pokok secara rutin, tetap jajan di pedagang kecil agar ekonomi terus berjalan.
  5. Selalu positive thinking dan positive feeling.

Memang saat ini adalah saat yang berat bagi kita, tapi percayalah Alláh Ar Razzáq sudah tetapkan rezeki untuk kita, tak ada satu hal pun yang dapat menahannya jika Alláh sudah berkehendak.

Tugas kita hanyalah beriman, bertawakal dan berikhtiar dengan maksimal.

Ar Rizqu Biyadilláh, rezeki itu ada dalam kuasa Alláh…kita tak sekedar butuh e-money tapi butuh kepedulian imàni.

Teriring do’a ta’ziyah dalam duka menadalam atas wafatnya Hb Ja’far Al Kaff – Kudus, انا لله وانا اليه راجعون رحمه الله رحمة واسعة واسكنه فسيح جناته …semoga husnul khátimah dan keluarga yang ditinggalkan sabar dan tabah.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here