Kopi Sehat UBM: Membunuh itu Kezhaliman

428

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP Parmusi, Direktur An-Nahl Institute Jakarta)

 مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka,” (QS. Al-Maidah: 32).

Pembunuhan, siapapun pelaku dan korbannya, adalah perbuatan zhalim dan sangat terkutuk. Oleh karenanya pembunuhan itu harus ditolak, dikecam, serta dikutuk oleh semua orang yang sadar hukum dan punya rasa kemanusiaan. Apalagi pembunuhan itu bukan pada yang bersalah dan melanggar hukum.

Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana dengan apa yang terjadi di Amerika saat Rakyatnya bangkit ‘memprotes pembunuhan satu orang berkulit hitam’, sekali lagi satu nyawa manusia yang dianggap warga Negara kelas dua, dan tak berlebihan para pengamat sampai mengatakan bahwa hal itulah diantara pemicu kekalahan Trump dalam pemilihan Presiden kemarin. WaAlláhu a’lam!

Mengapa warga Amerika seolah serempak bangkit melawan? Karena mereka memiliki kepedulian, Kesadaran hukum dan rasa kemanusiaan yang tinggi membuat mereka seolah koor, satu satu suara untuk bangkit melawan kezhaliman yang terkutuk itu.

Apalagi kita sebagai Negara berketuhanan yang Maha Esa, atau dengan filosofi dasar diantaranya kemanusiaan yang adil dan beradab, harusnya ini menjadi hal yang sangat sensitif dan besar. Tentu bukan berarti harus menimbulkan reaksi destruktif atau melahirkan ‘kezhaliman baru’, akan tetapi harus secara masif disuarakan agar gelombang suara dan resonansinya terus bergema sehingga kekejian serupa tidak boleh lagi terulang apalagi yang lebih parah dari itu.

Sebagai warga Negara yang berlandaskan hukum, kita sangat mengkhawatirkan bahwa kekerasan kemanusiaan seperti ini akan menjadi pintu gerbang bagi pihak-pihak yang memang punya itikad dan rencana busuk untuk merusak Indonesia. Termasuk didalamnya adalah semakin menganganya isu-isu sensitif seperti disintegrasi yang sedang terjadi di Papua. Wal’iyádzubilláh !

Dengan demikian, tentu kita semua sangat berharap agar peristiwa ini jangan sampai terulang kembali. Tidak boleh ada darah anak Bangsa yang tumpah apalagi sampai ada nyawa yang dihilangkan sia-sia, belum lagi kita-pun sedang dalam masalah besar covid 19 yang belum juga reda dan susana yang mengarah pada resesi berat.

Baru-baru ini, seorang sahabat saya yang duduk di komisi XI DPR RI menelpon saya dan menceritakan bagaimana kondisi keuangan kita yang makin mengerikan, anggaran belanja Negara kita hanya bertahan satu setengah bulan ke depan ! Para abdi Negara bisa-bisa tak menerima gaji atau upah bulanannya, belum lagi pinjaman terkahir dari Jepang dan Jerman diantaranya itu hanya buat bayar bunga hutang sebelumnya ! Na’udzubillàh wa Laa haula walaa quwwata illaa billáh !

Terakhir, kita semua Rakyat Indonesia yang terkenal santun dan beradab ini, berharap–sangat berharap agar sebagai pengayom masyarakat, Polisi itu hendaknya hadir memberikan rasa aman dan perlindungan kepada semuanya, tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih. Kekerasan, apapun dalihnya apalagi pada rakyat sipil yang belum jelas apa salahnya serta dengan senjata api, tentu hanya diperbolehkan dalam situasi bahaya dan ekstra genting.

Oleh karena itu, terlepas dari mana berita yang paling sesuai dengan peristiwanya, sebagai seorang Aktivis Islam yang juga Advokat Musilm, ikut menyuarakan agara dibentuk secara khusus TPF gabungan yang independen untuk menguak peristiwa ini agar dapat mencapai keadilan berdasarkan hukum dan memperoleh putusan hukum yang berkeadilan.

Kita semua do’akan secara khusus, agar enam saudara kita yang syahid dalam tugas mengawal Ulama, apalagi acaranya adalah dalam rangka pengajian dan shubuh berjama’ah agar memperoleh syahid dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran.

Nyawa, siapapun manusianya adalah sesuatu yang sakral dari Alláh Sang Pemilik sejatinya, maka tak boleh ada yang menghilangkannya kecuali oleh DIA YANG MAHA KUASA atau melalui hukum dan aturan yang telah diturunkanNYA.

Ayo terus kita gemakan ‘suara keadilan’ ini dengan cara-cara konstitusional dan konstruktif serta tetap berkeadaban agar hal seperti ini tak lagi berulang. Karena sesungguhnya pembunuhan, siapapun pelaku dan korbannya harus ditentang dan dikutuk. Semoga Negeri tercinta ini, selalu aman d damai, makmur dan berkeadilan. Aamiin Yaa Rabbaná.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here