Kopi Sehat UBM: Hilangnya Ilmu dengan Wafatnya Ulama

208

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi & Penyiaran Islam PP Parmusi, Direktur An Nahl Institute Jakarta)

Sejak kemarin, kita mendengar beberapa ulama dan cendekiawan wafat. Ada cendikiawan Prof Dr Dadang Hawari, sang Psikiater yang juga ulama, KH Qohwatul Adib Munawar pengasuh Ponpes Langitan, Habib Thohir Abdulloh Al-Kaff Tegal, KH. Faiq Robayan Jepara, Habib Umar bin Aqil bin Yahya Gresik dan masih banyak ulama, kiai dan habib lainnya sampai Shubuh tadi, bahkan mungkin detik ini. Rahimahumulláhu rahmatan wási’ah.

Kita tentu bersedih, amat sangat bersedih. Betapa satu persatu ulama kita dipanggil Alláh تعالى, sementara di sisi lain ada ulama, habib atau tokoh cendikiawan kita juga ‘dikriminalisasi’ seolah tiada henti dari hari ada saja berita tentang itu. Innálilláh.

Rasúlulláh صلى الله عليه وسلم bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Alláh tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Alláh mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan,” (HR. Bukhari).

Imam An Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwasanya maksud hadits diangkatnya ilmu yaitu sebagaimana pada hadits-hadits lainnya secara mutlak bukanlah menghapuskannya dari dada para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah wafatnya para ahli ilmu sehingga manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain.

Para ulama, juga kita semuanya pasti akan Alláh wafatkan karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Hendaknya kita para hamba Alláh, juga umatnya Rasúlulláh صلى الله عليه وسلم hendaknya terus semangat mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Sahabat Abdullah bin Mas’ud رضى الله عنه berkata:

ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﻭﺭﻓﻌﻪ ﻣﻮﺕ ﺭﻭﺍﺗﻪ، ﻓﻮﺍﻟﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﻴﻮﺩّﻥّ ﺭﺟﺎﻝ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﻬﺪﺍﺀ ﺃﻥ ﻳﺒﻌﺜﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻳﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﻛﺮﺍﻣﺘﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ

“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut diangkat/dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para periwayatnya/ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Alláh sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Alláh membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para Ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para Ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar”.

Oleh karenanya, hendaknya kita semakin mengokohkan semangat menuntut ilmu, bukan hanya sekedar baca dari Google, tetapi hadir di majelis ilmu atau halawat dan selanjutnya mengamalkan, menyebarkan atau menda’wahkannya, karena hilangnya ilmu agama merupakan tanda-tanda akhir zaman dan dekatnya zaman fitnah.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here