Kopi Sehat UBM: Hakikat Kemerdekaan

114

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP PARMUSI, Direktur An-Nahl Institute Jakarta, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Ummat)

KEMERDEKAAN itu adalah hak semua orang. Bahkan dalam pembukaan UUD 1945 disebut sebagai hak segala Bangsa. Kemerdekaan tentunya bukanlah hadiah, tetapi merupakan buah dari perjuangan dan pengorbanan yang sungguh tak dapat dibayar oleh apapun demi mandirinya bumi Nusantara tercinta.

Tentu saja, kemerdekaan yang saat ini telah kita raih selama 76 tahun, hendaknya dimaknai oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia, khususnya para pelayan Negri (istilah sesungguhnya buat yang mengaku sebagai penguasa) dengan benar dan hakiki agar tau apa yang dikerjakan dan dilakukan untuk kebaikan dan perbaikan bersama.

BACA JUGA:

Kopi Sehat UBM: Gunung Tembak yang Penuh Kisah Apik

Kopi Sehat UBM: Hijrah Tonggak Peradaban Baru yang Madani

Tujuh puluh enam tahun sudah negeri ini bebas dari hegemoni penjajah. Tidak boleh lagi ada penjajahan apalagi oleh orang yang telah mengemis dan diberi kekuasaan oleh rakyat pemilik sah sebuah negeri merdeka.

Kemerdekaan yang kemudian melahirkan kebebasan yang terukur dan terstruktur sepatutnya dimakani dengan benar dari berbagai segi karena pembebasan itu memerlukan waktu yang teramat panjang, tenaga yang tak sedikit bahkan banyak nyawa hilang, juga keberanian yang terpancar seolah tiada batas.

Negri tercinta ini telah dibela serta diperjuangkan mati-matian oleh para pahlawan yang berani mengobarkan semangat juang, berperang mengusir penjajah demi mempertahankan ‘nyawa dan sukma’ Indonesia.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Aqidah, Keyakinan Tanpa Basa-Basi

Alangkah indahnya, jika kita bersyukur dan memaknai firman Alláh عزوجل dalam ayat berikut sebagai spirit untuk menata dan mengisi kemerdekaan dengan benar:

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ سورة آل عمران : ١٤٠

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allàh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allàh tidak menyukai orang-orang zhalim,” (QS. Ali Imran: 140).

Mengisi dan memaknai kemerdekaan tidak hanya disambut dengan sejumlah perlombaan dan acara, apalagi yang sifatnya hura-hura tak bermakna. Karena perayaan seperti ini akan absen diadakan ketika hari kemerdekaan jatuh disaat seperti tahun-tahun ini.

Jika demikian, maka makna kemerdekaan akan menghadirkan persepsi yang sempit melalui adanya mata lomba oleh para anak-anak penerus bangsa ke depan.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Indahnya Persaudaraan Sejati

Generasi penerus bangsa adalah permata dan berlian bagi bangsa ini untuk masa yang akan datang. Setidaknya lewat pembinaan tauhid sebagai dasar kita bernegara, kemudian dikuatkan dengan ilmu dan pembentukan akhlak akan menjadi ruh dan jiwa menuju harapan terbentuknya negeri yang lebih baik dalam kehidupan.

Tentu saja, pasti ada hikmah dan rahasia Iláhiyah mengapa momen bersejarah kali ini jatuh kembali dalam suasana yang belum menentu, apalagi dengan PPKM yang terus diperpanjang entah sampai kapan.

Sejatinya kemerdekaan yang hakiki dan sesungguhnya adalah ketika kita mampu berdiri kokoh dalam landasan tauhïd untuk menegakkan keadilan dan melawan kezhaliman.

والله اعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here