Kopi Sehat UBM: Gerakan Dakwah Ilallah untuk Wujudkan Keislaman dalam Keindonesiaan

87

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP Parmusi, Direktur An-Nahl Institute Jakarta)

Islam dan Indonesia tak bisa dipisahkan. Catatan emas sejarah, tak bisa dihapus apalagi dikhianati. Indonesia sejak lahir tidak lepas dari spirit keislaman dan kekuatan-kekuatan umat Islam, bahkan dalam era awal perjuangan di Nusantara.

Rentetan sejarah itu menggambarkan bahwa sesungguhnya keislaman dan keindonesiaan itu memiliki nafas yang menyatu.

Perjuangan keislaman pernah mengalami titik yang kritis. Soal Piagam Jakarta misalnya, umat Islam berbesar hati menghapus tujuh kata, dan kemudian menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama tanpa tujuh kata itu. Ini merupakan pengorban luar biasa dan merupakan kompromi yang sangat kental keislaman untuk keindonesiaan.

Tetapi, perlu digarisbawahi bahwa dihapusnya tujuh kata itu bukan berarti mengeliminasi syariat Islam dalam kehidupan berbangsa atau bahkan membatasi apalagi menghilangkan pengamalan syariat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebab, justru di dalam UUD 1945 malah dipertegas kedudukan Islam yang nilai utamanya adalah tauhid sebagaimana pasal 29 ayat 1 adalah Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari sinilah kita melihat bahwa Islam Indonesia itu selalu bersenyawa dengan NKRI. Dalam soal pandangan Islam sendiri terhadap bentuk negara, secara umum, prinsip umat Islam itu bahwasanya Islam itu adalah ‘Rahmatan lil ‘Aalamiin’, rahmat bagi alam semesta. Karenanya ruh keislaman itu hendak membawa rahmat untuk keindonesiaan kita.

Saya sering katakana, “Kita ini orang Islam yang lahir di Indonesia, bukan sekadar orang Indonesia yang beragama Islam”. Karenanya Islam itu harga mati…atau dipertahankan sampai mati—bahkan setelah mati. Sementara NKRI adalah harga hidup, karena Indonesia adalah karunia Alláh untuk kita hidup di atasnya dalam rangka menebar rahmat besar ini.

Kita Orang Islam—-karenanya kita jaga Indonesisa dengan Islam kita. Kita jaga bangsa, kita jaga rakyatnya, kita jaga sumber daya alamnya, kita kuatkan sumber daya Insaninya agar bangsa besar dan alamnya yang merupakan ‘zamrud khaththul istiwa’ ini dapat diberdayakan dengan sebaik-baiknya unuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here