Kopi Sehat UBM: Energi Kita, Hidup Kita

115

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam Pimpinan Pusat PARMUSI, Dewan Pendiri Asean University – Direktur An Nahl Institute Jakarta)

وَالَّذِيۡنَ تَبَوَّؤُ الدَّارَ وَالۡاِيۡمَانَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّوۡنَ مَنۡ هَاجَرَ اِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُوۡنَ فِىۡ صُدُوۡرِهِمۡ حَاجَةً مِّمَّاۤ اُوۡتُوۡا وَيُـؤۡثِرُوۡنَ عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌ ؕ وَمَنۡ يُّوۡقَ شُحَّ نَـفۡسِهٖ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ‌ۚ

“Dan orang-orang (Anshár) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhájirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhájirin); dan mereka mengutamakan (Muhájirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung,” (QS Al Hasyr: 9).

Kadang kita memang harus seperti lilin, berusaha membuat terang sekitar walau diri kitapun jadi terbakar karenanya. Di saat yang lain kita memang tak boleh menjadi lilin yang hanya menerangi orang lain, sementara kita habis terbakar karenanya.

Energi positif utama itu ada dalam diri kita. Karena Alláh ﷻ telah menganugerahkan segalanya untuk kita, ada di dalam diri kita.

Kita diberi kemampuan untuk mengolah dan memanfaatkan energi kita yang kadang kita harus ‘ïtsar’, sementara di waktu atau konteks yang lain kita tak boleh ‘kabura maqtan…’ atau melupakan atau tidak mengingatkan diri sendiri.

Dengan itu kita tidak hanya membuat tersenyum, senang bahkan tertawa gembira orang lain, tapi kita akan merasakan ni’matnya hidup karenanya. Kita jadi bahagia dengan itu. Kita semakin berenergi karenanya.

Berani hidup, berani menanggung resiko maka beranilah untuk mengejar bahagia, tanpa harus mengusik kebahagiaan orang lain.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here