Kopi Sehat UBM: Cacian itu Sampah

102

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP Parmusi, Direktur An-Nahl Institute Jakarta)

Sabar, tahan, terkendali. Kendalikan ucapan, pikiran, dan perbuatan.

Tak mungkin tangan kita menutup mulut setiap orang yang ngomel-ngomel, mencaci maki, memarahi, mengejek atau menghina kita bahkan fitnah di medsos juga dunia nyata.

Tapi tangan kita bisa dengan mudah menutup telinga kita sendiri untuk tak perlu mendengarkan ocehan perkataan darinya. Terlebih lagi jika kita tak seperti apa yang dia katakan.

Kita sendiri-pun bisa dengan mudah untuk menutup mulut menggunakan tangan sendiri. Untuk supaya jangan sampai kita membalasnya dengan ucapan atau kata-kata yang kasar dan cacian yang sama pula. (Kendalikan ucapan).

Sabar, tahan, terkendali. Berdiam diri yang mulia. Tetap tenang, jaga ucapan, terkendali dalam perbuatan, dan pikiran pancarkan cinta kasih. (Semoga semua makhluk hidup bahagia, tenteram dan damai)

Dengan demikian inilah cara terbaik untuk tak menambah masalah jadi tambah parah. Pun tidak marah-marah sehingga tidak jadi susah, resah dan gelisah.

Maafkanlah, tak perlu menyimpan amarah, jengkel, benci dan apalagi dendam terhadapnya. Karena dengan demikian, sudah pasti hidup kita jadi semakin jauh dari ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan.

Tetap berbaik sangka, berpikir positif, berbuat baik walau sebiji sawi, dan teruslah berbuat baik walau orang lain tidak menghargaimu tetapi ingat Alláh  yang tau segalanya.

Jangan merespon omongan negatif orang lain tentangmu itu adalah SAMPAH. Tersenyumlah dan senyumin saja,niscaya dunia kembali nampak indah.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here