Kopi Sehat UBM: Adab Dulu, Ilmu Kemudian

124

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP Parmusi, Direktur An-Nahl Institute Jakarta)

Seorang ahli hikmah berkata, “Aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun terkadang aku sering sekali menyesali perkataan yang aku ucapkan.”

Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya.

“Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak.”  Adab, etika, dan atitude satu rangkaian yang membentuk akhláq.

Sering kita mendengar bahwa di antara ciri yang membedakan manusia dari binatang adalah akal atau ilmu. Pernyataan ini tidak keliru bahkan tepat sekali.

Tapi mesti digarisbawahi, di atas ilmu ada yang lebih urgen, yakni adab atau akhláq. Sebab, ilmu seberapapun banyaknya tanpa disertai adab yang baik akan menjerumuskan manusia dalam perilaku binatang, atau mungkin bisa lebih rendah.

Betapa banyak peperangan, kesewenang-wenangan kekuasaan, kerusakan alam, atau sejenisnya muncul justru karena ditopang kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi zaman sekarang.

Karena itu, yang paling mendasar dibutuhkan bagi peradaban manusia adalah adab. Ilmu memang sangat penting, tapi pondasi berupa akhláq jelas lebih penting.

Karena akhlaqlah yang menyelamatkan manusia dari keserakahan, kezhaliman, kekejaman, keangkuhan, kebencian, arogansi yang tinggi dan sifat-sifat tercela lainnya.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here