Konsumsi Halal Membentuk Generasi Andal

553

Gadis Penjual Susu

Dalam kisah lain yang masyhur disebutkan, Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya, “Tarikh Dimasqi”, menceritakan: “Seperti biasa, malam itu Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkeliling kota mengontrol keadaan rakyatnya, ditemani khadimnya yang bernama Aslam. Sebuah pekerjaan rutin dalam kapasitasnya sebagai kepala negara. Tiba-tiba beliau menangkap percakapan menarik dari rumah seorang wanita penjual susu: “Ayo, bangunlah! Campurkan susu itu dengan air!”, perintah sang ibu, seorang wanita miskin pedagang susu di pasar yang mencoba berbuat curang.

Namun Umar salut kepada anak perempuan yang menolak ajakan buruk ibunya itu. “Apakah ibu belum mendengar larangan dari Amirul Mukminin?”, sergah sang anak gadis. “Apa larangannya?” “Beliau melarang menjual susu yang dicampur air” “Ah… Cepat campur susu itu dengan air. Jangan takut pada Umar, sungguh ia tidak melihatnya!”. “Memang Umar tidak melihat, namun Tuhannya Umar melihat kita, bu,” timpal sang gadis lagi. Umar tertegun. Dialog ibu dan anak ini begitu menyentuhnya. Sang Khalifah tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Pagi harinya beliau memerintahkan salah seorang putranya, Ashim untuk meminang gadis miskin yang jujur itu. “Pergilah kau ke sebuah tempat, terletak di daerah itu. Di sana ada seorang gadis penjual susu. Kalau ia masih sendiri, pinanglah dia. Mudah-mudahan Allah mengaruniakanmu seorang anak yang shalih yang penuh berkah”. (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasq, 70/252).

Firasat Umar ternyata benar. Ashim menikahi gadis mulia itu, dan dikaruniai putri bernama Ummu Ashim. Wanita ini lalu dinikahi oleh Khalifah Abdul Aziz bin Marwan, dan darinya lahir seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi khalifah kesohor sepanjang masa, Umar bin Abdul Aziz.

Dari kisah tersebut, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik, khususnya di zaman kita yang penuh kerusakan hari ini. Diantaranya, jika seorang mau sedikit bersabar, maka sesuatu yang luput darinya lantaran sikap jujur dan konsisten dengan yang halal, niscaya akan diberi ganti dengan karunia yang jauh lebih mulia. Sebagaimana janji dari Nabi saw: “Sungguh, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah, melainkan Allah Ta’ala akan memberikan engkau (menggantikan) dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Yah, ternyata segayung air untuk mencampur susu yang akan dijual, yang ditinggalkan anak gadis itu karena takut pada Allah, digantikan dengan seorang pemuda shalih, putra khalifah besar. Konsisten mempertahankan yang halal, Allah balas dengan anak-keturunan yang dicatat sejarah dengan tinta emas. Abadi namanya dalam lembaran sejarah umat manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here