Koleksi Artefak Islam Akan Dialihkan ke Museum Nasional Sohag

1024
Salah satu koleksi artefak di Museum Nasional Sohag (Photo: Ahram)

Mesir, Muslim Obsession – Sebanyak 124 artefak berharga dari koleksi Museum of Islamic Art (MIA) di lingkungan Bab Al-Khalq Kairo dan Museum Tekstil di jalan Al-Muizz, semuanya telah dikemas untuk dikirim ke Museum Nasional Sohag.

Pengalihan tersebut bertujuan untuk sebuah pameran baru yang mencerminkan sejarah unik Sohag. Demikian seperti disampaikan Elham Salah, kepala sektor museum Egypt’s Ministry of Antiquities.

“Museum baru yang akan segera dibuka, menampilkan artefak dalam sebuah pameran yang mencerminkan sejarah unik Sohag. Di antara 108 artefak yang dikuratori dari MIA adalah pot tanah liat dengan pegangan dan alas kecil, koleksi toples dan cat tanah liat yang dilukis dengan berbagai bentuk dan ukuran,” papar Salah.

Selain itu, koleksi lukisan dan kanvas kayu dengan pemandangan yang menggambarkan seorang wanita berdiri di dalam sebuah kubah dan seorang pria di tepi sungai Nil. Sebuah manuskrip Persia kecil yang menceritakan kisah cinta tentang Layla dan Majnun.

Yakni, kisah Qays Ibn Al-Mulawah dan Layla di Arabia pada abad ke-7. Merupakan salah satu di antara objek-objek yang dipilih. Naskah tersebut memiliki 18 ilustrasi berwarna.

Enam belas artefak yang dipilih dari Museum Tekstil mencakup potongan-potongan kain yang dihiasi dengan manik-manik keramik faience atau tembikar glasir bening, sisa jubah anak-anak yang terbuat dari kain linen.

 

Ada juga sepotong persegi panjang Kiswa, yakni kain yang digantungkan pada Kabah. Museum Nasional Sohag diluncurkan pada tahun 1983 namun belum selesai karena ketidaksepakatan mengenai desain interior pameran.

Di samping itu, ada kesulitan anggaran setelah revolusi 25 Januari di Mesir. Sehingga, pekerjaan dilanjutkan pada awal 2017. Salah menjelaskan, pameran tersebut mencakup artefak yang telah ditemukan di berbagai tempat di dekat Sohag.

Pameran ini juga yang akan menampilkan peninggalan-peninggalan yang mewakili tradisi, adat istiadat, industri dan kerajinan tangan dari penduduk daerah tersebut. Di antaranya seperti kostum tradisional dan perhiasan mereka.

“Konsep museum tidak lagi bergantung pada penempatan artefak. Di samping satu sama lain untuk menggambarkan peradaban Mesir kuno,” ujar Salah sebagaimana dilansir laman Ahram Rabu (14/2/2018).

“Ini adalah filosofi baru yang diadopsi Egypt’s Ministry of Antiquities. Untuk mengubah museum daerah negara menjadi institusi pendidikan dan budaya yang lebih produktif,” tegasnya.

Menurut Salah, tujuan museum sekarang adalah untuk memberikan layanan pendidikan yang lebih luas kepada pengunjung dan meningkatkan kesadaran serta kesetiaan terhadap arkeologi Mesir.

Museum tersebut akan menunjukkan kepada pengunjung tentang bagaimana nenek moyang mereka membangun peradaban besar melalui budaya dan kehidupan sehari-hari.

“Museum-museum regional Mesir terkadang tidak memenuhi potensi sejati mereka. Karena mereka sering menampilkan objek tanpa alur cerita tematik,” tandasnya.

“Setiap museum regional harus mencerminkan kota tempat ia berada. Di Museum Sohag, misalnya, desain pameran memberikan informasi yang jelas tentang sejarah Sohag, Abydos dan Akhmim. Serta peran yang dimainkan oleh penguasa sejarah lokal dalam membangun peradaban Mesir,” pungkasnya. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here