Kisah Tsalabah bin Abdurrahman Tak Sengaja Mengintip Wanita Mandi

897
Wajah kusam karena maksiat (Ilustrasi)

Muslim Obsession – Allah memerintahkan hamba-Nya agar senantiasa menjaga pandangan. Hal ini semata-mata untuk menjaga apa yang di dalam hati, juga menjaga nafsu dan syahwat.

Bahkan, perintah menundukkan pandangan ini tertulis dalam Al-Quran. Ini artinya, kita harus betul-betul memperhatikan masalah pandangan ini.

Ada sebuah kisah sahabat Nabi yang patut kita renungkan yang disampaikan oleh Buya Yahya melalui ceramahnya. Berikut rangkuman ceritanya:

Ia adalah Tsalabah bin Abdurrahman. Suatu hari dalam perjalanan, Tsalabah yang dikenal sebagai pelayan setia Rasulullah, tidak sengaja mengintip seorang wanita mandi, itu pun karena tirai penutupnya tak sengaja terbuka.

Saat itu juga, Tsalabah sangat amat merasa ketakutan. Ia takut bilamana turun wahyu kepada Rasulullah tentang perbuatan maksiatnya tersebut.

“Mau ditaruh di mana wajahku di depan Nabi?” pikirnya.

Dengan penuh rasa malu dan ketakutan, Tsalabah pun lari ke sebuah bukit. Di sana dia terus bersembunyi, menangis dan menangis, bertaubat menyesali dosanya.

Sekian lama ia bersembunyi, Rasulullah pun mencari-cari Tsalabah. Beliau menjadi sangat khawatir, beliau pun bertanya-tanya kepada para sahabat dan tidak ada seorang pun yang tahu.

Jibril akhirnya memberitahu Rasul, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepadamu dan Allah juga berfirman padaku, “Sesungguhnya seorang laki laki dari umatmu berada di gunung ini dan sedang memohon perlindungan kepada-Ku.””

Setelah mendengar penjelasan dari Malaikat Jibril maka Rasulullah pun memerintah sahabat lainnya, “Wahai Umar dan Salman bawalah Tsalabah kepada ku.”

Umar dan Salman pun langsung pergi menyusuri perbukitan di sekitar Madinah. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan penggembala bernama Dzufafah, mereka bertanya padanya sembari menjelaskan ciri-ciri fisik Tsalabah.

“Ciri-ciri yang kau sebutkan amat persis dengan anak laki-laki yang sering aku lihat. Tapi dia tidak periang seperti yang tadi kau sebutkan. Sebaliknya, dia sangat murung dan terlihat selalu bersedih,” cerita sang penggembala.

Umar dan Salman akhirnya sepakat untuk menunggu anak laki-laki tersebut. Barang kali, ia memang Tsalabah.

“Biasanya ia akan turun dari atas bukit, dan aku akan memberinya air susu. Lalu ia pergi ke atas lagi. Dia tidak suka melihat manusia, dia akan lari ketakutan. Sebaiknya, kalian (Umar dan Salman) bersembunyi ketika ia datang,” pesan si penggembala.

Saat tiba ia turun, benar saja anak laki-laki itu adalah Tsalabah yang mereka cari. Melihat Tsalabah, Umar langsung berlari dan mendekap Tsalabah. Tsalabah pun terkejut bukan main.

“Apakah Rasulullah sudah mengetahui dosaku? Apakah telah turun wahyu yang menceritakan tentang aku?” tanya Tsalabah bertubi-tubi kepada Umar dan Salman.

Namun, Umar tidak memberi penjelasan apapun pada Tsalabah dan mengajaknya untuk bertemu Rasulullah.

Tsalabah menolak karena ia merasa tak sanggup bertemu Rasulullah. Singkat cerita, Tsalabah pun jatuh sakit. Umar dan Salman pun langsung membawanya ke rumah ibunya.

Mengetahui Tsalabah tengah sakit, Rasulullah segera menjenguknya. Beliau menyandarkan kepala Tsalabah di atas pangkuannya.

Menyadari hal tersebut, Tsalabah pun menurunkan kepalanya. Lalu diangkat lagi oleh Rasul, lalu diturunkan lagi oleh Tsalabah.

“Mengapa wahai Tsalabah?” tanya Rasul.

“Wahai Rasul, kepala ini tidak pantas berada di pangkuanmu yang suci. Kepala ini telah berdosa,” ujar Tsalabah sembari menangis dan menceritakan kejadian yang ia alami.

Rasulullah lantas bertanya apa yang diinginkan Tsalabah. Tidak ada yang diinginkan Tsalabah, selain diampuni dosanya dan diridhai oleh Rasulullah.

“Allah telah mengampuni dosamu dan aku ridho kepadamu,” ujar Rasul.

Tsalabah pun menangis terharu dan bahagia. Tidak lama kemudian, ia pun meninggal dunia.

Rasulullah menyuruh para sahabat untuk segera memandikan dan mengkafani jenazah Tsalabah. Setelah acara pemakaman, Rasulullah nampak menjauh dengan berjalan berjingkat jingkat, para sahabat yang melihatnya merasa heran.

“Wahai Rasulullah, kenapa engkau terlihat berjalan berjingkat jingkat?” tanya sahabat.

“Apakah kalian tahu, pemakaman tadi penuh dengan malaikat yang melayat Tsalabah,” jawab Rasul, para sahabat pun serentak bertasbih.

Wallahu A’lam bish Shawab..

Simak cerita sengkapnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here