Kisah Suku Baduwi Arab Kencing di Masjid

608
Ilustrasi Suku Baduwi Arab.

Jakarta, Muslim Obsession – Tidak hanya di Indonesia, di wilayah Arab Saudi juga terdapat Suku Baduwi. Baduwi adalah sebuah suku pengembara yang ada di Jazirah Arab. Sebagaimana suku-suku pengembara lainnya, suku Baduwi berpindah dari satu tempat ke tempat lain sembari menggembalakan kambing.

Suku Baduwi merupakan salah satu dari suku asli di Arab. Perawakan suku Badui yang khas menyebabkan suku ini dapat langsung dikenali. Perawakannya sebagaimana ditulis dalam buku-buku sejarah Arab adalah berbadan tinggi, dengan hidung mancung. Lain halnya dengan suku pendatang yang ada di Arab, suku Baduwi tetap mempertahankan budaya dan cara hidup mengembara.

Sejak zaman Nabi Muhammad Saw, Suku Baduwi pun sudah ada, mereka sudah hidup mengembara. Dalam ceritanya orang Baduwi juga dikenal bandel, berani, dan tidak pandang bulu. Namun, di balik kepolosan orang Baduwi, tersimpan juga karakter yang lembut dan penyayang. Kisah suku Baduwi dengan Nabi Muhammad Saw banyak terekam dalam buku-buku sejarah.

Salah satunya, dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud disebutkan, suatu ketika seorang Arab baduwi berdiri dan kencing di masjid. Lalu para sahabat Nabi Saw berteriak melarangnya. Namun, Rasulullah Saw hanya mengatakan: “biarkan, jangan memutus kencingnya!” Tak lama kemudian, beliau memanggil orang Baduwi itu, dan menasehatinya:

“Masjid bukan untuk dikencingi dan dikotori. Masjid hanya untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al-Qur’an.” Dalam cerita lain ditambahkan Rasulullah Saw kemudian menyuruh sahabat lain untuk membawa air dan menyiram kencing itu.

Betapa mulia akhlak Rasulullah saw. Sedikitpun beliau tidak menampak wajah murka ketika melihat seorang Arab Baduwi kencing di masjid, bahkan melarang sahabat untuk melarang dan menghentikan kencingnya. Di balik kasih sayangnya Rasulullah kepada suku Baduwi banyak dari mereka akhirnya memeluk Islam.

Nabi Saw seolah mengajari kepada sahabat bahwa ada cara yang lebih santun untuk mengingatkan orang Arab Baduwi itu. Nasehat dengan nada lembut jauh lebih menyentuh hati orang Baduwi itu daripada makian atau teriakan yang terlontar dari mulut para sahabat. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here