Kisah Sedih di 10 Muharram

249
Ilustrasi Perang di Karbala. (Foto: dailytimes)

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Pidato Sayidina Husein radhiyallahu ‘anhu di Tanggal 10 Muharam cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seorang diri bertempur dan terkepung dengan sekujur panah yang menancap di badannya sebelum dipenggal oleh pasukan Khalifah Yazid bin Muawwiyah.

 قال: أما بعد، فانسبوني فانظروا من أنا، ثم ارجعوا إلى أنفسكم وعاتبوها، فانظروا، هل يحل لكم قتلي وانتهاك حرمتي؟ ألست ابن بنت نبيكم ص وابن وصيه وابن عمه، وأول المؤمنين بالله والمصدق لرسوله بما جاء به من عند ربه! او ليس حمزة سيد الشهداء عم أبي! أوليس جعفر الشهيد الطيار ذو الجناحين عمى! [او لم يبلغكم قول مستفيض فيكم: إن رسول الله ص قال لي ولأخي: هذان سيدا شباب أهل الجنة!] فإن صدقتموني بما أقول- وهو الحق- فو الله ما تعمدت كذبا مذ علمت أن الله يمقت عليه أهله، ويضر به من اختلقه، وإن كذبتموني فإن فيكم من إن سألتموه عن ذلك أخبركم، سلوا جابر بن عبد الله الأنصاري، أو أبا سعيد الخدري، أو سهل بن سعد الساعدي، أو زيد بن أرقم، أو أنس بن مالك، يخبروكم أنهم سمعوا هذه المقاله من رسول الله ص لي ولأخي. أفما في هذا حاجز لكم عن سفك دمي!

“Lihat nasabku. Pandangilah siapa aku ini. Lantas lihatlah siapa diri kalian. Perhatikan apakah halal bagi kalian untuk membunuhku dan menciderai kehormatanku. Bukankah aku ini putra dari anak perempuan Nabimu? Bukankah aku ini anak dari washi dan keponakan Nabimu, yang pertama kali beriman kepada ajaran Nabimu? “Bukankah Hamzah, pemuka para syuhada, adalah Pamanku? Bukankah Ja’far, yang akan terbang dengan dua sayap di surga, itu Pamanku? “Tidakkah kalian mendengar kalimat yang viral di antara kalian bahwa Rasulullah berkata tentang saudaraku dan aku: “keduanya adalah pemuka dari pemuda ahli surga”? “Jika kalian percaya dengan apa yang aku sampaikan, dan sungguh itu benar karena aku tak pernah berdusta. Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyalah Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’d, Zaid bin Arqam dan Anas bin Malik, yang akan memberitahu kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku dan aku. Tidakkah ini cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku?”

Baca juga: Kontroversi Yazid bin Muawwiyah dalam Tragedi Karbala

Kata-kata yang begitu eloknya itu direkam oleh Tarikh At-Thabari (5/425) dan Al-Bidayah wan Nihayah (8/193).

Namun Hati mereka sudah gelap dan telah terkunci tidak akan tersadar. Pasukan yang mengepung atas perintah Ubaidullah bin Ziyad itu memaksa Sayidina Husein bin Ali itu untuk mengakui kekuasaan Khalifah Yazid bin Muawwiyah.

Sayidina Husein radhiyallahu ‘anhu berperang sendirian karena pasukan yang membantunya mengkhianati dirinya dan pasukan yang menghianati itu adalah orang-orang Khurasan Syiah Iran, hingga hari ini ketika 10 muharam mereka melampiaskan penyesalannya karena pengkhianatan mereka kepada Sayidina Husein radhiyallahu ‘anhu dengan memukul-mukul kepala dan dada mereka.

Sayidina Husen radhiyallahu ‘anhu pun gugur dengan kepalanya dipenggal oleh Ubaidullah bin Ziyad. Langit pun merah selama tiga hari berturut-turut, disusul dengan gerhana matahari yang sangat lama. Menurut penuturan Ummu Salma, Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih hidup saat itu, beliau bermimpi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis menyaksikan pemenggalan kepala Sayidina Husein radhiyallahu ‘anhu.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

REFERENSI

  • Tarikh At-Thobari
  • Kitab An-Nihayah Wal Bidayah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here